MENGARTIKAN AGAMA MENGGUNAKAN PENDEKATAN FILSAFAT

Ketika seseorang mulai menyadari eksistensi dirinya, maka timbullah tanda-tanya dalam hatinya sendiri,tentang banyak hal.dalam lubuk hatinya yang dalam,memancarkan kecenderungan untuk tahu rahasia yang masih merupakan misteri yang terselubung itulah fitrah manusia,dengan fitrah itu manusia bergolak mencari dan merindukan tuhan, dari mulai bentuk yang dangkal dan bersahaja,berupa perasaan sampai ketingkat yang lebih tinggi berupa penggunaan akal ( Filsafat ).

Boleh jadi fitrah ini sesekali ketutup kabut kegelapan sehingga nampak manusia tidak mau tau siapa penciptanya, namun kekuatan fitrah ini tidak dapat dihapuskn sama sekali, dia sewaktu-waktu muncul kepermukaan lautan kesadaran memanifestasikan kecenderungan merindukan tuhannya yang begitu baik budi dan betapa bahagianya para pencari tuhan yang merindukan penciptanya,ketika mereka disambut mesra, oleh tuhannya,dalam bentuk petunjuk yang diwahyukan oleh rosulnya,disinilah terdapat perpaduan antara naluri, akal dan wahyu yang membuahkan ma’rifat pengenalan terhadap Allah dengan sebenar-benarnya.

BAB 1
PEMBAHASAN
MENGARTIKAN AGAMA MENGGUNAKAN PENDEKATAN FILSAFAT

A. Sejarah filsafat islam

Telah dimaklumi bahwa peradaban Yunani pada umumnya sangat menarik perhatian kaum muslimin, terutama sesudah adanya penterjemahan buku-buku Yunani kedalam bahasa Arab sejak zaman Al-Mansur (kurang lebih pertengahan abad 1 H) sampai di antara ilmu Yunanai yang menarik kaum muslimin ialah retorica Yunani yang sangat mempengaruhi retorika Arab. Filsafat Yunani juga tidak kalah pengaruhnya karena bukan saja dikalangan mutakallimin yang hanya mengambilnya sebagai alat memperkuat dalil-dalil kepercayaan Islam dalam menghadapi lawan-lawannya, tetapi juga di kalangan mereka yang terkenal dengan nama filosof-filosof Islam, seperti al-Kindy, al-Faraby, Ibnu Sina, dan lain-lain. Berbeda dengan mutakallimin, mereka mengambil seluruhnya filsafat Yunanidan mempertemukanya dengan ajaran-ajaran agam islam yang menurut lahirnya berlawanan.

Memang filsafat Yunani sudah lama masuk dikalangan kaum muslimin sebelum masa al-Kindy, baik yang langsung dari Yunani, maupaun yang melalui orang-orang Masehi Nesturiah dan Ya’kubiyah. Akan tetapi orang ynag mempelajari filsafat Yunani secara keseluruhan yang berhak dinamakan filosof Islam baru al-Kindy. Perhatian pada filsafat memuncak pada zaman Khalifah Al-Makmun (813-833) putra Harun Al-Rasyid. Utusan-utusan yang dikirim kekerajaan Bizantium mencari Manuskrip yang kemudian dibawa ke Baghdad dan diterjemahkan kedalam bahasa Arab. Untuk keperluan penerjemahan itu AL-Makmun mendirikan Bait al-Hikmah (Widya Graha) di Baghdad yang dipimpin oleh Hunain bin Ishak, seorang penganut agama Kristen yang berasal dari Hirah, ia pernah pergi ke Yunani dan belajar bahasa Yunani, disamping menguasai bahasa Syiria (suryani) yang dizaman itu merupakan salah satu bahasa ilmiah. Sebagian besar karya Aristoteles, Plato dan buku-buku mengenai Neo-Platonisme diterjemahkan kedalam bahasa arab.
Pada permulaanya tradisi pelajaran ilmu agama dibawah pegaruh terjemahan-terjemahan bahasa Arab, karya-karya filsafat dan ilmu pengetahuan Yunani abad ke-2/8, bercabang dan mengembang kedalam gerakan pemikiran ilmu pengetahuan dan filsafat yang kukuh dan cemerlang yang menghasilkan karya-karya bernilai besar dan orisinal dari abad ke-3/9 hingga abad ke 6/12. dampaknya atas pemikiran islam dan perkembanganya dengan cara penyerapan dan bereaksi. Sebagaimana pengganti doktrin-doktrin filsafat individual yang diberikan oleh sejumlah filosof .

Pengertian Agama

Kata “Agama” berasal dari kata sanksekerta,yang asal katanya A dan Gama,A artinya “tidak” dan Gama artinya kocar-kacir atau berantakan,Yang dapat kita simpulkan Agama adalah tidak kocar-kacir ( Tidak berantakan )

Menurut istilah Agama adalah peraturan tuhan yang diturunkanNya kepada manusia melalui Rosulnya untuk menjadi pedoman bagi manusia dalam melaksanakan kehidupan dan penghidupan mereka didalam segala aspeknya agar mereka mencapai kejayaan hidup secara lahir dan batin serta dunia dan akhirat.

Pengertian agama menurut Harun nasution yaitu :

1.Pengakuan terhadap adanyahubungan manusia dengan kekuatan yang harus dipatuhi.
2.pengakuan terhadap adanya kekuatan ghaib yang menguasai manusia.
3.Mengikatkan diri pada suatu bentuk hidup yang mengandung pengakuan pada suatu sumber yang berada di luar diri manusia yang mempengaruhi perbuatan manusia.
4.KePercayaan pada suatu kekuatan ghaib yang menimbulkan cara hidup tertentu
5.Suatu sistem tingkah laku yang berasal dari kekuatan ghaib
6.Pengakuan terhadap adanya kewajiban yag diyakini bersumber pada kekuatan ghaib.
7.Pemujaan terhadap kekuatan ghaib yang timbul dari perasaan lemah dan takut .
8.Pemujaan terhadap kekuatan ghaib yang timbul dari perasaan lemah dan takut terhadap perasaan misterius yang terdapat dalam alam sekitar manusia.
9.Ajaran yang diwahyukan tuhan kepada manusia melalui seorang rasul.

Pengertian Agama menurut I. G. Frazer

Adalah menyemmbah atau menghormati kekuatan yang lebih agung dari pada manusia yang dianggap mengatur dan menguasai jalannya alam semesta dan jalannya kehidupan manusia.

Pengertian Agama Menurut Prof.K.H.M Thaib thohir Abdul muin

Adalah suatu perturan tuhan yang mendorong jiwa seseorng yang mempunyai akal, memegang peraturan tuhannya itu dengan kehendaknya sendiri untuk mencapai kebaikan hidup dan kebahagiaan kelak ( Istilah ini meliputi kepercayaan dan perbuatan ).

Jadi Pengertian Agama Adalah suatu ajaran untuk mempercayai adany a kekuatan ghaib diluar diri manusia yang mengatur cara hidup,system tingkah laku manusia yang diwahyukan tuhan kepada seorang rosul untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat

Mengapa manusia harus beragama yaitu:

1.Keterbatasan kemampuan manusia
2.Memberikan makanan rohani
3.Memenuhi tuntutan kita
4.Menanggulangi kegelisahan
5.Ingin bahagia
6.Memelihara martabat manusia
7.Sumber prinsip-prinsip hidup
8.Sumber hokum
9.Dengan adanya agama kita dapat mengenal Allah
10.Dengan agama kita dapat mengenal manusia
11.Memenuhi tujuan Allah menciptakan manusia

Pengertian Filsafat

Pengertian filsfat itu sendiri beraneka ragam,dan Ada beberapa pendapat mengenai filsafat yaitu diantaranya:
1.Menurut Thomas Hobbes, filsafat adalah ilmu yang menerangkan hasil dan sebab atau sebab dan hasilnya

2.Menurut Aristoteles,Filsafat adalah ilmu tentang kebenaran

3.Menurut Plato ,bahwa Filsafat bukanlah pengetahuan kebijaksanaan, kepndaiaan melainkan, kegemaran dan kemauan untuk mendapatkan pengetahuan yang luhur itu.

Jadi dapat diambil kesimpulan bahwa filsafat adalah ilmu yang mempelajari tentang kebenaran,tentang bagaimana ilmu itu dipelajari secara mendalam

Objek pembagian Filsafat

Objek filsafat adalah mencari keterngan sedalam-dalamnya,disinilah kita ketahui sesuatu yang ada atau yang berwujud yang menjadikan penyelidikan dan menjadi pembagian filsafat menurut objecnya yaitu:
1.Umum
2.Mutlak
3.Cosmologia
4.Antropologia
5.Etika
6.Logika

Filsafat Ketuhanan ( Theologi Filsafat )

Menurut Prof.Dr.D.C Mulder ( 1972,Hal 30 ) Filsafat Agama merupakan bagian filsafat ketuhanan,filsafat ketuhanan termasuk filsafat sistematis yang mempelajari Cosmologia,manusia dengan Tuhannya

Filsafat ketuhanan ( Theologi Filsafat ) yaitu hikmah kebijaksanaan menggunakan akal pikiran dalam menyelidiki ada dan esanya Tuhan.

Untuk pembahasn secara khusus biasanya istilah teologi dikaitkan dengan keterangan kualifikasi, mislnya: theology Kristen, theology protestan, theology budha, theology hindu, dan theology islam.

Dalam pembahasan makalah ini kami akan mengkhususkan pada pembahasan theology islam. Dan di dalam agama islam terdapat istilah ilmu tauhid dan ilmu kalam, untuk membahas masalah ketuhanan adalah tauhid ( mengesakan dan menganggap satu).

Ilmu tauhid menurut islam adalah ilmu yang menerangkan tentang sifat Tuhan yang wajib diketahui dan dipercayai dimana bagian terpenting adalah pembahasan mengenai keesaan Allah, tidak ada sekutu bagi-Nya
Pentingnya kedudukan dan fungsi filsafat

Al-quran menyuruh manusia menggunakan akal

Al-Quran adalah pedoman bagi umat manusia untuk menjalani kehidupan ini sesuai dengan tuntunan Rabbnya,karena di dalam Al-Quran semua permasalahan diatur dengan baik. Al-Quran juga merupakan firman-firman Allah penyempurna dari kitab-kitab sebelumnya, yang didalamnya tidak hanya berisi tentang tauhid saja tetapi didalamnya mengajarkan hikmah dan juga terdapat alasan-alasan yang dapat diterima secara logika. Dengan kata lain bahwa doktrin adanya Tuhan tidak hanya disuruh percaya begitu saja tetapi sebelum itu diberikan kesempatan berfikir lurus.

Rasio (akal) merupakan salah satu dari perangkat anugrah (hidayah) yang diberikan Tuhan kepada manusia. Didalam Al-quran terdapat banyak ayat dalam bentuk yang bervariasimenyuruh mnusia menggunakan akalnya dengan baik, memikirkan alam disamping mengingat dan menyebut Penciptanya Allah SWT. Ada beberapa ayat yang memerintahkan menusia menggunakan akalnya untuk memikirkan alam ini, yaitu surat Al-Hajj 22:46,Al-Imron 3:190-191,Ar-Rum 30: 8, Al-Ankabut 29:43,Al-Arof 7: 185,Al-Qof 50: 6-11,dan Al- Fatir 3: 27-28.

Jadi dapat kita simpulkan bahwa mengartikan agama dengan menggunakan ilmu filsafat adalah filsafat sebagai media untuk manusia mencari makna Tuhan atau ma’rifatullah secara mendalam, dan menggunakan logikanya sebagai alat pencari makna islam itu sendiri.tetapi yang perlu digarisbawahi, logika manusia memiliki keterbatasan. Sehingga Al-Quran tidak semua ayatnya dapat di terjemahkan secara logika,contohnya saja ayat tentang ruh.

Pendekatan filosofis

Secara harfiah, kata filsafat berasal dari kata philo yang berarti cinta kepada kebenaran, ilmu dan hikmah. Selain itu filsafat dapat pula berarti mencari hakikat sesuatu, mencoba menautkan sebab dan akibat serta berusaha menafsirkan pengalaman-pengalaman manusia.

Menurut Sidi Gazalba, filsafat adalah berfikir secara mendalam, sistematik, radikal, dan universal dalam rangka mencari kebenaran, inti hikmah atau mengenai hakikat segala sesuatu yang ada Dari definisi tersebut dapat diketahui bahwa filsafat pada intinya upaya menjelaskan inti, hakikat, atau hikmah mengenai sesuatu yang ada dibalik objek formalnya.

Filsafat mencari sesuatu yang mendasar, asas dan inti yang terdapat di balik yang bersifat lahiriah. Sebagai contoh, kita jumpai berbagai bentuk rumah dengan kualitas yang berbeda, tatapi semua rumah itu intinya adalah sebagai tempat tinggal. Kegiatan berfikir untuk menemukan hakikat itu dilakukan secara mendalam .berfikir secara filosofis tersebut selanjutnya dapat digunakan dalam memahami ajaran agama, dengan maksud agar hikmah, hakikat atau inti dari ajaran agama dapat dimengerti dan dipahami secara seksama.

Pendekatan Filosofis yang demikian itu sebenarnya sudah banyak dlakukan oleh para ahli. Misalnya dalam buku yang berjudul Hikmah Al-Taasyri’ Walfalsafalatuhu yang ditulis oleh Muhamad Al-Jurjawi. Dalam buku tersebut Al-urjawi berupaya mengungkapkan hikmah yang terdapat diballik ajaran-ajaran agama Islam.

Agama misalnya mengajarkan agar melaksanakan sholat berjamaah. Tujuannya antara lain agar seseorang merasakan hikmahnya hidup secara berdampingan dengan orang lain. Melalui pendekatan filosofis ini, seseorang tidak akan terjebak pada pengalaman agama yang bersifat formalistik, yakni mengamalkan agama dengan susah payah tapi tidak memiliki makna apa-apa, kosong tanpa arti. Yang mereka dapatkan dari pengalaman agama tersebut hanyalah pengakuan formalistik, misalnya sudah haji, sudah menunaikan rukun Islam yang kelima, dan berhenti sampai disitu. Mereka tidak dapat merasakan nilai-nilai spiritual yang terkandung didalamnya. Namun demikian, pendekatan filosofis ini tidak berarti menafikan atau menyepelekan bentuk pengalaman agama secara formal. Filsafat mempelajari segi batin yang bersifat esoterik. Sedangkan bentuk (formal) memfokuskan segi lahiriyah yang bersifat eksoterik.

Menurut Al-Kindi falsafat dan agama samawi tidak bisa bertentangan. Falsafat membahas kebenaran dan wahyu membawa informasi tentang kebenarandan wahyu membawa informasi tentang kebenaran. Di sinilah terletak persamaan antara falsafat dan agama, keduanya sama-sama membahas kebenaran. Selanjutnya, agama disamping wahyu mempergunakan akal dan falsafat menggunakan akal pula. Falsafat membahas kebenaran pertama (al-haqq al-awwal) dan agama itulah pula yang dijelaskannya.
Tuhan ialah Al-Haqq Al-Awaal. Falsafat yang paling tinggi ialah falsafat yang membahas Al-Haqq Al-Awwal itu. Membahas Tuhan itu diwajibkan dalam Islam. Oleh karena itu mempelajari filsafat dalam islam tidak dilarang.

Al-Farabi juga berpendapat demikian. tetapi baginya falsafat dapat mengganggu keyakinan orang awam. Oleh karena itu ia mengatakan bahwa falsafat tidak boleh dibocorkan dan tak boleh sampai ketangan orang awam.

Kalau filosof-filosof berpendapat bahwa filsafat tidak boleh jatuh ketangan orang awam, Al-Ghazali lebih dari itu mengatakan bahwa teologi pun tidak boleh disampaikan pada mereka. Bukan hanya filsafat yang dapat mengacaukan keyakinan, bahkan ilmu kalam dapat mengacaukan iman seseorang. Karena dalam memahami agama para filosof (kaum khawas) menggunakan arti batin yang tidak boleh disampaikan kepada orang awam yang menggunakan arti lahir.

Refrensi :

•Hady Aslam.Dr,Pengantar Filsafat Agama.Jakarta, CV Rajawali,1986
•Zaini Syahminan.Drs,Mengapa Manusia Harus Beragama.Jakarta,Kalam Mulia,1986.Cet 1
•Ya’qub Hamzah.H.Dr,Filsafat Agama Titik Temu Akal Dengan Ilmu.Jakarta,Pedoman Ilmu Jaya,1992
•Harifuddin.H.Drs,Rasjidi.M.H.Dr.Prof,Islam Untuk Disiplin Ilmu Filsafat.Jakarta,Bulan Bintang,1988
•www.ariffadholi.blogspot.com

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Iblis dan Ibnu Ummi Maktum

Abdullah bin ummi maktum adalah salah seorang sahabat yg mulia.Dia adalah salah satu sebab turunnya surat Abasa.

Suatu hari,Abdullah bin ummi maktum mengikuti pengajian Rosulullah SAW .dalam kesempatan itu, Rosul menyampaikan akan kewajiban setiap muslim yg mendengar adzan untuk segera menunaikan sholat.karena kondisi fisiknya,yakni matanya yg buta,ia memberanikan diri bertanya kepada Rosulullah SAW.

"Wahai Rosulullah SAW,apakah saya juga diwajibkan kendati saya tidak bisa melihat ?" tanya Ibnu ummi maktum,

Rosul menjawab." Apakah kamu mendengar seruan azan ?"

Ibnu ummi maktum menjawab,"Ya,saya mendengarnya."

Rosul pun memerintahkannya agar ia tetap pergi kemesjid meskipun sambil merangkak.

Maka,dengan penuh keimanan,setiap azan berkumandang dan waktu sholat tiba,ia pun segara pergi kemesjid dan berjama'ah dengan Rosulullah SAW.suatu ketika diwaktu subuh,saat azan dikumandangkan, ibnu ummi maktum pun bergegas kemesjid. Ditengah jalan,kakinya tersandung batu hingga akhirnya mengeluarkan darah.Namun,tekadnya sudah bulat untuk tetap berjama'ah kemesjid.

Waktu subuh berikutnya,ia bertemu dengan seorang pemuda.Pemuda ini bermaksud menolongnya dan menuntunnya kemesjid. Selama berhari2,sang pemuda ini selalu mengantarnya kemesjid. Ibnu ummi maktum pun kemudian ingin membalas kebaikannya. "

Wahai saudaraku,siapakah gerangan namamu.izinkan aku mengetahuimu agar aku bisa mendoakanmu kepada Allah," ujarnya.

"Apa untungnya bagi anda mengetahui namaku dan aku tak mau engkau do'akan", jawab sang pemuda."

jika demikian,cukuplah sampai disini saja engkau membantuku. Aku tak mau engkau menolongku lagi sebab engkau tak mau didoakan " tutur ibnu ummi maktum kepada pemuda itu

Maka sang pemuda ini pun akhirnya mengenalkan diri. "Wahai ibnu ummi maktum, ketahuilah sesungguhnya aku adalah iblis," ujarnya. " lalu mengapa engkau menolongku dan selalu mengantarkanku kemesjid. Bukankah engkau semestinya mencegahku untuk kemesjid ?" tanya ibnu ummi maktum lagi.

Sang pemuda yg bernama iblis itu kemudian membuka rahasia atas pertolongannya selama ini. " Wahai ibnu ummi maktum,masih ingatkah engkau beberapa hari yg lalu tatkala engkau hendak kemesjid dan engkau terjatuh ? Aku tidak ingin hal itu terulang lagi. Sebab,karena engkau terjatuh, Allah telah mengampuni dosamu yg separuh. Aku takut kalau engkau terjatuh lagi Allah akan menghapuskan dosamu yg separuhnya lagi ,sehingga terhapuslah dosamu seluruhnya. Maka, sia-sialah kami menggodamu selama ini," jawab iblis tersebut.

Kisah diatas menggambarkan kepada kita bahwa sesungguhnya iblis tak akan pernah berhenti untuk menggoda dan menyesatkan manusia. Dalam hal yg baik pun,iblis selalu berusaha untuk membelokkan orang yg beriman kearah yg dimurkai Allah.

"Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala" (Qs.Fatir : 6).

Semoga Allah senantiasa membimbing dan meridhai setiap ibadah kita

Amin .....

Sumber:
Syahruddin El-fikri dalam (Rubrik HIKMAH Koran REPUBLIKA)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Dasar-Dasar Jurnalistik



Pengertian

Pengertian istilah jurnalistik dapat ditinjau dari tiga sudut pandang: harfiyah, konseptual, dan praktis.
Secara harfiyah, jurnalistik (journalistic) artinya kewartawanan atau kepenulisan. Kata dasarnya “jurnal” (journal), artinya laporan atau catatan, atau “jour” dalam bahasa Prancis yang berarti “hari” (day). Asal-muasalnya dari bahasa Yunani kuno, “du jour” yang berarti hari, yakni kejadian hari ini yang diberitakan dalam lembaran tercetak.
Secara konseptual,

jurnalistik dapat dipahami dari tiga sudut pandang: sebagai proses, teknik, dan ilmu.

1. Sebagai proses, jurnalistik adalah “aktivitas” mencari, mengolah, menulis, dan menyebarluaskan informasi kepada
publik melalui media massa. Aktivitas ini dilakukan oleh wartawan (jurnalis).

2. Sebagai teknik, jurnalistik adalah “keahlian” (expertise) atau “keterampilan” (skill) menulis karya jurnalistik
(berita, artikel, feature) termasuk keahlian dalam pengumpulan bahan penulisan seperti peliputan peristiwa
(reportase) dan wawancara.

3. Sebagai ilmu, jurnalistik adalah “bidang kajian” mengenai pembuatan dan penyebarluasan informasi (peristiwa,
opini, pemikiran, ide) melalui media massa. Jurnalistik termasuk ilmu terapan (applied science) yang dinamis dan
terus berkembang sesuai dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi dan dinamika masyarakat itu
sendiri. Sebaga ilmu, jurnalistik termasuk dalam bidang kajian ilmu komunikasi, yakni ilmu yang mengkaji proses
penyampaian pesan, gagasan, pemikiran, atau informasi kepada orang lain dengan maksud memberitahu, mempengaruhi,
atau memberikan kejelasan.

Secara Praktis, Jurnalistik adalah proses pembuatan informasi atau berita (news processing) dan penyebarluasannya melalui media massa. Dari pengertian kedua ini, kita dapat melihat adanya empat komponen dalam dunia jurnalistik sebagai berikut :

1.Informasi

2.penyusunan informasi

3.penyebarluasan informasi

4.media massa.

I.Informasi : News & Views

Informasi adalah pesan, ide, laporan, keterangan, atau pemikiran. Dalam dunia jurnalistik, informasi dimaksud adalah news (berita) dan views (opini).

News ( Berita )

Berita adalah laporan peristiwa yang bernilai jurnalistik atau memiliki nilai berita (news values) –aktual, faktual, penting, dan menarik. Berita disebut juga “informasi terbaru”.

Jenis-jenis berita :

1. Berita langsung (straight news)
2. Berita opini (opinion news)
3. Berita investigasi (investigative news), dan sebagainya.

Views ( Opini )

adalah pandangan atau pendapat mengenai suatu masalah atau peristiwa.

Jenis informasi Views adalah sebagai berikut :

1.Kolom

2.tajuk rencana

3.artikel

4.surat pembaca

5.karikatur

6.pojok

7.esai.

Feature

Ada juga tulisan yang tidak termasuk berita juga tidak bisa disebut opini, yakni feature, yang merupakan perpaduan antara news dan views.

Jenis feature yang paling populer adalah sebagai berikut :
1.Feature tips (how to do it feature)
2.Feature biografi
3.Feature catatan perjalanan/petualangan
4.Feature human interest.

II.Penyusunan Informasi

Informasi yang disajikan sebuah media massa tentu harus dibuat atau disusun dulu. Yang bertugas menyusun informasi adalah bagian redaksi (Editorial Department), yakni para wartawan, mulai dari Pemimpin Redaksi, Redaktur Pelaksana, Redaktur Desk, Reporter, Fotografer, Koresponden, hingga Kontributor.Pemred hingga Koresponden disebut wartawan. Menurut UU No. 40/1999, wartawan adalah “orang yang melakukan aktivitas jurnalistik secara rutin”. Untuk menjadi wartawan, seseorang harus memenuhi kualifikasi berikut ini:

1. Menguasai teknik jurnalistik, yaitu skill meliput dan menulis berita, feature, dan tulisan opini.

2. Menguasai bidang liputan (beat).

3. Menguasai dan menaati Kode Etik Jurnalistik.

Teknis pembuatannya terangkum dalam konsep proses pembuatan berita (news processing), meliputi:

1.News Planning

perencanaan berita. Dalam tahap ini redaksi melakukan Rapat Proyeksi, yakni perencanaan tentang informasi yang akan disajikan. Acuannya adalah visi, misi, rubrikasi, nilai berita, dan kode etik jurnalistik. Dalam rapat inilah ditentukan jenis dan tema-tema tulisan/berita yang akan dibuat dan dimuat, lalu dilakukan pembagian tugas di antara para wartawan

2.News Hunting

pengumpulan bahan berita. Setelah rapat proyeksi dan pembagian tugas, para wartawan melakukan pengumpulan bahan berita, berupa fakta dan data, melalui peliputan, penelusuran referensi atau pengumpulan data melalui literatur, dan wawancara.

3.News Writing

penulisan naskah. Setelah data terkumpul, dilakukan penulisan naskah.

4.News Editing

penyuntingan naskah. Naskah yang sudah ditulis harus disunting dari segi redaksional (bahasa) dan isi (substansi). Dalam tahap ini dilakukan perbaikan kalimat, kata, sistematika penulisan, dan substansi naskah, termasuk pembuatan judul yang menarik dan layak jual serta penyesuaian naskah dengan space atau kolom yang tersedia.
Setelah keempat proses tadi dilalui, sampailah pada proses berikutnya, yakni proses pracetak berupa Desain Grafis, berupa lay out (tata letak), artistik, pemberian ilustrasi atau foto, desain cover, dll. Setelah itu langsung ke percetakan (printing process).

III. Penyebarluasan Informasi

Yakni penyebarluasan informasi yang sudah dikemas dalam bentuk media massa (cetak). Ini tugas bagian marketing atau bagian usaha (Business Department) –sirkulasi/distribusi, promosi, dan iklan. Bagian ini harus menjual media tersebut dan mendapatkan iklan.

IV. Media Massa (Mass Media)

adalah sarana komunikasi massa (channel of mass communication ). Komunikasi massa sendiri artinya proses penyampaian pesan, gagasan, atau informasi kepada orang banyak (publik) secara serentak.

Ciri-ciri (karakteristik) media massa adalah sebagai berikut :

1. disebarluaskan kepada khalayak luas (publisitas)
2. pesan atau isinya bersifat umum (universalitas)
3. tetap atau berkala (periodisitas)
4. berkesinambungan (kontinuitas)
5. berisi hal-hal baru (aktualitas).

Jenis-jenis media massa

1.Media Massa Cetak (Printed Media) Yang termasuk media cetak adalah seperti koran atau surat kabar, tabloid,
newsletter, majalah, buletin, dan buku

2.Media Massa Elektronik (Electronic Media) Yang termasuk Media Elektronik adalah radio, televisi, dan film

3.Media Online (Cybermedia). Yang termasuk Media Online adalah website internet yang berisikan informasi- aktual
layaknya media massa cetak.

Produk Utama Jurnalistik: Berita

Aktivitas atau proses jurnalistik utamanya menghasilkan berita, selain jenis tulisan lain seperti artikel dan feature.

Berita adalah laporan peristiwa yang baru terjadi atau kejadian aktual yang dilaporkan di media massa.
Tahap-tahap pembuatannya adalah sebagai berikut:

1. Mengumpulkan fakta dan data peristiwa yang bernilai berita –aktual, faktual, penting, dan menarik—dengan “mengisi”
enam unsur berita 5W+1H (What/Apa yang terjadi, Who/Siapa yang terlibat dalam kejadian itu, Where/Di mana
kejadiannya, When/Kapan terjadinya, Why/Kenapa hal itu terjadi, dan How/Bagaimana proses kejadiannya)

2. Fakta dan data yang sudah dihimpun dituliskan berdasarkan rumus 5W+1H dengan menggunakan Bahasa Jurnalistik –
spesifik= kalimatnya pendek-pendek, baku, dan sederhana; dan komunikatif = jelas, langsung ke pokok masalah
(straight to the point), mudah dipahami orang awam.

3. Komposisi naskah berita terdiri atas: Head (Judul), Date Line (Baris Tanggal), yaitu nama tempat berangsungnya
peristiwa atau tempat berita dibuat, plus nama media Anda, Lead (Teras) atau paragraf pertama yang berisi bagian
paling penting atau hal yang paling menarik, dan Body (Isi) berupa uraian penjelasan dari yang sudah tertuang di
Lead.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

BERITA PALSU TENTANG AISYAH R.A

TAFSIR SURAT AN NUR AYAT 11 – 26
BERITA PALSU TENTANG AISYAH R.A
SEBUAH PROSES TARBIYAH QUR’ANIYAH


Islam menghendaki terbentuknya masyarakat yang bersih dan terhormat, jauh dari perbuatan-perbuatan negatif yang merusak sendi-sendinya. Sehingga masyarakat mampu berperan pula sebagai pendidik bagi warganya.

Tersebarnya isu-isu negatif ke tengah masyarakat akan sangat berdampak luas pada fungsi pendidikan terutama pembinaan akhlaq. Dan isu negatif yang paling sensitif menyebar di masyarakat adalah isu perzinaan. Keresahan dan goncangan akan mengganggu dinamika masyarakat.

Islam telah berusaha maksimal meminimalisir penyebaran isu-isu negatif itu. Namun jika terjadi pula muncul isu negatif tentang seseorang, Islam mengajarkan untuk menghentikan isu itu dan fihak yang diisukan untuk pandai mengambil pelajaran.

Tuduhan perselingkuhan itu dituduhkan pada Aisyah ra, oleh kaum munafiq dan melibatkan tokoh-tokoh penting dalam Islam, seperti Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam sebagai suami, Abu Bakar As Shiddiq ayah Aisyah dan sahabat terdekat Nabi, Shafwan ibn Al Mu’aththil seorang veteran Badr, seperti yang diterangkan dalam sababun nuzul ayat 11 sampai 22 ini.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam apabila akan bepergian, ia mengundi dahulu, siapa di antara isterinya yang akan dibawa ikut serta dalam perjalanan itu. Demikian juga Rasulullah mengundi isterinya yang akan dibawa ke medan perang. Pada suatu hari dan kejadiannya setelah turun ayat hijab, kebetulan Aisyah terundi untuk dibawa. Aisyah digotong di atas tandu, dan tandu itu ditaruh di atas onta untuk kemudian berangkat.

Setelah selesai peperangan dan ketika pulang hampir mendekati Madinah, Rasulullah memberi izin untuk berhenti sebentar pada waktu malam. Aisyah turun dan pergi buang air. Ketika sampai kembali ke tempatnya, Aisyah meraba dadanya ternyata kalungnya hilang, sehingga ia pulang kembali ke tempat tadi untuk mencari kalungnya.

Lama ia mencarinya, dan orang-orang yang memikul tandunya mengangkat kembali tandu itu ke atas unta yang dinaikinya. Mereka mengira bahwa Aisyah ada di dalamnya, karena wanita-wanita pada waktu itu badannya enteng dan langsing-langsing, sehingga tidak begitu terasa bedanya antara tandu kosong dengan yang berisi.

Kalung itu diketemukan setelah pasukan Rasulullah berangkat, sehingga tak seorangpun terdapat di situ. Aisyah duduk kembali di tempat berhenti tadi, dengan harapan orang-orang akan menjemputnya atau mencarinya kembali.

Ketika duduk di tempat istirahat tadi Aisyah mengantuk dan terus tertidur. Kebetulan sekali Shafwan bin Al Mu’aththil yang tertinggal oleh pasukan karena suatu halangan pada pagi hari itu sampai ke tempat pemberhentian Aisyah dan melihat ada benda hitam bayangan manusia. Ia dapat mengenalnya karena sebelum turun ayat hijab pernah melihatnya.

Aisyah terbangun karena Shafwan mengucapkan “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un” dan segera Aisyah menutup mukanya dengan kerudungnya. Tidak sepatah katapun yang diucapkan Aisyah dan ia tidak mendengar kecuali ucapan “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un” tadi. Ketika itu Shafwan menyuruh untanya berlutut agar Aisyah dapat naik di atas unta tersebut, dan ia menuntun unta itu sehingga sampai ke tempat pasukan yang sedang berteduh di tengah hari. Hal itulah yang terjadi pada diri Aisyah. Maka celakalah orang yang menuduhnya dengan fitnah yang dilancarkan oleh Abdullah bin Ubay bin Salul.

Ketika sampai ke Madinah Aisyah menderita sakit selama satu bulan, dan orang-orang menyebar luaskan fitnah yang dibuat oleh Abdullah bin Ubay bin Salul, tapi Aisyah sendiri tidak mengetahuinya.

Setelah Aisyah merasa agak sembuh, ia memaksakan diri dibimbing Ummu Misthah pergi buang air. Ummu Misthah tergelincir dan latah dengan ucapan: ”Celaka anakku si Misthah”. Aisyah bertanya :”Mengapa engkau berkata demikian, mencaci maki seorang yang ikut serta dalam perang Badr”. Ummu Misthah berkata: “Wahai junjunganku! Tidakkah engkau mendengar apa yang ia katakana?”. Aisyah bertanya : “Apa yang ia katakan?”. Lalu Ummu Misthah menceritakan fitnah yang tersebar sehingga bertambahlah penyakit Aisyah.

Pada suatu hari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam datang menemuinya, tidak seperti biasanya dalam menyikapi Aisyah. Rasulullah hanya bertanya : “Bagaimana keadaanmu”?. Kemudian Aisyah meminta izin untuk pergi ke Ibu-Bapaknya untuk meyakinkan khabar yang tersebar itu. Rasulullah mengizinkan, dan ketika sampai di rumah orang tuanya, Aisyah bertanya kepada ibunya: ”Wahai ibuku! Apa yang mereka katakan tentang diriku?” Ia menjawab: ”Wahai anakku! Demi Allah tabahkanlah hatimu! Sangatlah sedikit wanita yang cantik dan dicintai suaminya serta dimadu, pasti banyak yang akan menghasutnya”. Aisyah berkata: “Subhanallah, apakah sampai demikian orang-orang memperbincangkanku. Dan apakah hal ini sampai kepada Rasulullah?” Ibunya mengiyakan. Iapun menangis malam itu hingga pagi, sehingga air matanya tak henti-hentinya mengalir.

Pada suatu hari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam memanggil Ali bin Abi Thalib dan Usamah bin Zaid untuk membicarakan perceraian dengan isterinya, karena wahyu tidak turun.

Usamah mengemukakan pendapatnya bahwa sepanjang pengetahuannya keluarga Rasul itu adalah orang baik. Berkata: “Ya Rasulallah, mereka itu adalah keluarga tuan dan kami mengetahui bahwa mereka itu baik”.

Ali berkata :”Allah tidak menyempitkan Tuan dan masih banyak wanita selainnya. Untuk itu sebaiknya Tuan bertanya kepada Barirah (pembantu rumah tangga Aisyah) pasti ia akan menerangkan yang benar”.

Rasulullah memanggil Barirah, dan bertanya: “Wahai Barirah, apakah engkau melihat yang meragukanmu tentang Aisyah?. Ia menjawab:”Demi Allah yang telah mengutus tuan dengan haq, jika aku melihat dari padanya sesuatu hal, tentu tak kan aku sembunyikan, tiada lebih ia seorang yang masih sangat muda, masih suka tertidur di samping tepung yang sedang diadoni, dan membiarkan ternaknya makan tepung karena tertidur”.

Maka berdirilah Raulullah di atas mimbar meminta bukti dari Abdullah bin Ubay bin Salul dengan berkata:”Wahai kaum Muslimin siapakah yang dapat menunjukkan orang yang telah menyakiti keluargaku, karena demi Allah aku tidak mengetahui tentang isteriku kecuali kebaikan”.

Di saat itu Aisyah sedang menangis sepanjang hari, demikian juga pada malam harinya, air matanya mengalir dan tidak sekejap pun dapat tidur, dan ibu-bapaknya mengira bahwa tangisannya akan membelah jantungnya.

Ketika kedua orang tuanya menunggui Aisyah yang sedang menangis, datanglah seorang wanita Anshar meminta izin masuk, dan Aisyah-pun mengizinkannya serta duduklah wanita itu di sisinya ikut menangis.

Ketika itu datanglah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam memberi salam dan duduk serta membaca syahadat dan berkata: ”Amma ba’du. Wahai Aisyah! Sesungguhnya telah sampai ke telingaku hal-hal mengenai dirimu. Sekiranya engkau bersih, maka Allah akan membersihkanmu dan jika engkau melakukan dosa, maka mintalah ampun kepada Allah. Sesungguhnya seseorang yang mengakui dosanya kemudian bertaubat, Allah akan menerima taubatnya”. Setelah beliau selesai bicara berkatalah Aisyah kepada ayahnya: ”Coba jawabkan untukku wahai Ayahku!” Abu Bakar menjawab: ”Apa yang mesti aku katakan?” Lalu Aisyah berkata kepada ibunya: “Coba jawab perkataan Rasulullah untukku wahai Ibuku!”. Ia menjawab: ”Demi Allah, apa yang mesti aku katakan?” Akhirnya Aisyah pun menjawab: “Aku ini seorang wanita yang masih sangat muda. Demi Allah, sesungguhnya aku mengetahui bahwa Tuan telah mendengar apa-apa dan terkena di hati tuan bahkan Tuan mempercayainya. Sekiranya aku berkata bahwa aku bersih, dan Allah mengetahui bahwa aku bersih, Tuan tidak akan mempercayainya”.

Hal ini terjadi setelah sebulan lamanya tidak turun wahyu berkenaan dengan peristiwa Aisyah.

Setelah itu ia pun pindah dan berbaring di tempat tidurnya.

Belum juga Rasulullah meninggalkan tempat duduknya dan tak seorangpun dari isi rumah yang keluar, Allah menurunkan wahyu kepada Nabi, dan tampak sekali Rasulullah kepayahan sebagaimana biasanya apabila menerima wahyu.

Setelah selesai turun wahyu, kalimat pertama yang Rasulullah ucapkan ialah: “Bergembiralah wahai Aisyah, sesungguhnya Allah telah membersihkanmu”.

Maka berkatalah ibunya kepada Aisyah: ”Bangun dan menghadaplah kepadanya”. Aisyah berkata: ”Demi Allah, aku tidak akan bangun menghadap kepadanya, dan tidak akan memuji syukur kecuali kepada Allah yang telah menurunkan ayat yang menyatkan kesucianku.[1]

Setelah kejadian ini, Abu Bakar yang biasanya memberi nafkah kepada Misthah karena hubungan kerabat dan kefakirannya, berkata: “Demi Allah, aku tidak akan memberi nafkah lagi kepada Misthah karena ucapannya tentang Aisyah” maka turunlah Ayat 22 .[2]


وَلَا يَأْتَلِ أُولُو الْفَضْلِ مِنْكُمْ وَالسَّعَةِ أَنْ يُؤْتُوا أُولِي الْقُرْبَى وَالْمَسَاكِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ
يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ


Artinya: Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantun) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.



Ayat itu memberi teguran kepada orang-orang yang bersumpah tidak akan memberi nafkah kepada kerabat, fakir, dan lainnya karena merasa disakiti hatinya oleh mereka.



Abu Bakar berkata: “Demi Allah, sesungguhnya aku mengharapkan ampunan”. Ia pun terus menafkahi Misthah sebagaimana semula.[3]



Kekecewaan Abu Bakar terhadap Misthah tidak menghalanginya untuk terus berbuat baik, meskipun kepada orang yang pernah menyakiti diri dan keluarganya.



Permasalahan ini dalam surah An Nur dibahas dalam ayat 11 sampai 26

إِنَّ الَّذِينَ جَاءُوا بِالْإِفْكِ عُصْبَةٌ مِنْكُمْ لَا تَحْسَبُوهُ شَرًّا لَكُمْ بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَكُمْ لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ مَا اكْتَسَبَ مِنَ الْإِثْمِ وَالَّذِي تَوَلَّى كِبْرَهُ مِنْهُمْ لَهُ عَذَابٌ عَظِيمٌ (11) لَوْلَا إِذْ سَمِعْتُمُوهُ ظَنَّ الْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بِأَنْفُسِهِمْ خَيْرًا وَقَالُوا هَذَا إِفْكٌ مُبِينٌ (12) لَوْلَا جَاءُوا عَلَيْهِ بِأَرْبَعَةِ شُهَدَاءَ فَإِذْ لَمْ يَأْتُوا بِالشُّهَدَاءِ فَأُولَئِكَ عِنْدَ اللَّهِ هُمُ الْكَاذِبُونَ (13) وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآَخِرَةِ لَمَسَّكُمْ فِي مَا أَفَضْتُمْ فِيهِ عَذَابٌ عَظِيمٌ (14) إِذْ تَلَقَّوْنَهُ بِأَلْسِنَتِكُمْ وَتَقُولُونَ بِأَفْوَاهِكُمْ مَا لَيْسَ لَكُمْ بِهِ عِلْمٌ وَتَحْسَبُونَهُ هَيِّنًا وَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيمٌ (15) وَلَوْلَا إِذْ سَمِعْتُمُوهُ قُلْتُمْ مَا يَكُونُ لَنَا أَنْ نَتَكَلَّمَ بِهَذَا سُبْحَانَكَ هَذَا بُهْتَانٌ عَظِيمٌ (16) يَعِظُكُمَ اللَّهُ أَنْ تَعُودُوا لِمِثْلِهِ أَبَدًا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ (17) وَيُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآَيَاتِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ (18) إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آَمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالْآَخِرَةِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ (19) وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ وَأَنَّ اللَّهَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ (20) يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ وَمَنْ يَتَّبِعْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ فَإِنَّهُ يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ مَا زَكَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ أَبَدًا وَلَكِنَّ اللَّهَ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ (21) وَلَا يَأْتَلِ أُولُو الْفَضْلِ مِنْكُمْ وَالسَّعَةِ أَنْ يُؤْتُوا أُولِي الْقُرْبَى وَالْمَسَاكِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ (22) إِنَّ الَّذِينَ يَرْمُونَ الْمُحْصَنَاتِ الْغَافِلَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ لُعِنُوا فِي الدُّنْيَا وَالْآَخِرَةِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ (23) يَوْمَ تَشْهَدُ عَلَيْهِمْ أَلْسِنَتُهُمْ وَأَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (24) يَوْمَئِذٍ يُوَفِّيهِمُ اللَّهُ دِينَهُمُ الْحَقَّ وَيَعْلَمُونَ أَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ الْمُبِينُ (25) الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ أُولَئِكَ مُبَرَّءُونَ مِمَّا يَقُولُونَ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ (26)

Artinya:

Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagimu,bahkan ia adalah baik bagimu. Tiap-tiap orang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakan.

Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu orang-orang mu’minin dan mu’minat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata: “Ini adalah suatu berita bohong yang nyata”.

Mengapa mereka (yang menuduh itu) tidak mendatangkan empat orang saksi atas berita bohong itu? Oleh karena mereka tidak mendatangkan saksi-saksi maka mereka itulah pada sisi Allah orang-orang yang dusta.

Sekiranya tidak ada karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu semua di dunia dan akhirat, niscaya kamu ditimpa azab yang besar, karena pembicaraan kamu tentang berita bohong itu.

Ingatlah di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia di sisi Allah adalah besar.

Dan mengapa kamu tidak berkata, di waktu mendengar berita bohong itu: “Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan ini. Maha suci Engkau Ya Tuhan kami. Ini adalah dusta yang besar.

Allah memperingatka kamu agar (jangan) kembali berbuat yang seperti itu selama-lamanya, jika kamu orang-orang yang beriman.

Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha bijaksana.

Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan akhirat. Dan Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.

Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka tidak akan memberi bantuan kaum kerabatnya, orang-orang yang miskin dan orang-orang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka mema’afkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanita-wanita baik-baik, yang lengah lagi beriman (berbuat zina), mereka kena la’nat di dunia dan akhirat, dan bagi mereka azab yang besar, pada hari ketika, lidah, tangan, dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan. Di hari itu, Allah akan memberi mereka balasan yang setimpal menurut semestinya, dan tahulah mereka bahwa Allah-lah Yang Maha Besar, lagi Maha menjelaskan (segala sesuatu menurut hakikat yang sebenarnya).

Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji, dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita yang baik (pula). Mereka yang dituduh itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rizki yang mulia (surga).

Sumber : http://imamuna.wordpress.com/2008/11/21/pelajaran-keenam-tafsir-surat-an-nur-ayat-11-26/#more-157

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Jalan Langsung Menuju Kebaikan

Kebaikan ??? Setiap orang pasti menginginkan yg namanya kebaikan,siapapun ia ,bahkan sekelas orang penting didunia ini pun pasti menginginkan yg namanya kebaikan didalam ayat Al-Qur'an (Qs.Fathir : 10 ) "Barangsiapa menghendaki kemuliaan,maka ( ketahuilah ) kemuliaan itu semuanya milik Allah. KepadaNya lah akan naik perkataan-perkataan yg baik, dan amal kebajikan Dia Akan mengangkatnya. Adapun orang-orang yg merencanakan kejahatan mereka akan mendapat azab yg sangat keras, dan rencana jahat mereka akan hancur " dari ayat tersebut diatas,sedikitnya ada 3 pelajaran penting yg seyogyanya dijadikan bahan renungan sekaligus diusahakan implementasinya dalam kehidupan keseharian oleh orang2 yg beriman. 1. Ayat tersebut diatas menegaskan bahwa kemuliaan hidup itu hanya akan diraih manakala seseorang bertindak dan berbuat sesuai dengan ketentuan Allah dan rosulNya.kesungguhan dalam berbuat kebaikan,kejujuran dan amanah dan keberpihakan pada kemaslahatan bersama,itulah sesungguhnya hakikat kemuliaan. Meskipun tidak selalu disertai dengan melimpah ruahnya harta atau dengan jabatan formal yg tinggi, tentu akan lebih utama jika harta dan jabatan dipergunakan untuk kebaikan dan kemaslahatan bersama dalam rangka meraih kemuliaan itu. 2. Segala amal perbuatan yg terpuji,baik dalam bentuk ucapan maupun tindakan,sesungguhnya memiliki jalur langsung kepada Allah dan akan diangkat serta dilaporkan oleh para malaikat kehadirat Allah, Zat yg Mahatinggi dan Mahamulia. Karena itu, berbuat baik yg disertai keikhlasan dan kesungguhan harus menjadi lifestyle atau gaya hidup orang yg beriman,termasuk berbuat buat baik kepada orang yg tidak pernah berbuat baik kepada kita sekalipun. Dalam HR.Muslim,Rosulullah SAW bersabda: "Diantara perbuatan yg sangat utama dan sangat terpuji (afdhalul-fadhail) adalah engkau mampu bersilaturrahim dengan orang yg memutuskannya. Engkau mampu bersedia memberi kepada orang yg tak pernah mau memberi kepada anda karena kebakhilannya. Engkau mampu memaafkan orang yg berlaku dzalim dan curang kepada anda" Dalam surah An-Nur : 22 dijelaskan bahwa : "Dan janganlah orang-orang yg mempunyai kelebihan dan kelapangan diantara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi bantuan kepada kerabatnya orang2 yg berhijrah dijalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu ? Dan Allah Maha pengampun,Maha penyayang." 3. Jika kemuliaan yg hakiki diraih melalui ketundukan dan kepatuhan kpd Allah disertai perbuatan amal sholeh yg terus menerus,baik dengan ucapan maupun tindakan yg dilandasi dengan keikhlasan dan dibingkai dengan kesungguhan, niscaya segala bentuk kejahatan dari orang2 yg berperilaku jahat,pasti akan mengalami kehancuran dan kebinasaan. Harus kita yakini bahwa segala bentuk kedzoliman dan keburukan akan hancur dengan sendirinya manakala kita istiqomah dalam menebar benih2 kebaikan dan menanam pohon kebajikan. "Dan jika Allah menimpakan bencana kepadamu,maka tidak ada yg dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu,maka tidak ada yg dapat menolak karuniaNya.Dia memberi kebaikan kepada siapa saja yg dia kehendaki diantara hamba2Nya. Dia Maha pengampun,maha penyayang." (Qs.Yunus : 107) Sumber : Koran Republika pada Kolom Hikmah

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Kisah Ka'ab Bin Malik

Sumber : Buku karangan Fathi yakan yang berjudul " Yang Berguguran Dijalan Da'wah "

Pada perang Tabuk, ada beberapa sahabat yang tidak berangkat berperang. Salah satu di antar mereka. Salah satu di antara mereka adalah Ka’ab bin Malik. Marilah kita dengarkan cerita Ka’ab yang menunjukkan kejujuran imannya, usai turunnya pengampunan Allah atas dosanya.

“Aku sama sekali tidak pernah absent mengikuti semua peperangan bersama Rasululah saw, kecuali dalam perang Tabuk. Perihal ketidakikutsertaanku dalam perang Tabuk itu adalah karena kelalaian diriku terhadap perhiasan dunia, ketika itu keadaan ekonomiku jauh lebih baik daripada hari-hari sebelumnya. Demi Allah, aku tidak pernah memiliki barang dagangan lebih dari dua muatan onta, akan tetapi pada waktu peperangan itu aku memikinya.

Sungguh, tidak pernah Rasullah saw. merencanakan suatu peperangan melainkan beliau merahasiakan hal itu, kecuali pada perang Tabuk ini. Peperangan ini, Rasulullah saw. lakukan dalam kondisi panas terik matahari gurun yang sangat menyengat, menempuh perjalanan nan teramat jauh, serta menghadapi lawan yang benar-benar besar dan tangguh. Jadi, rencananya jelas sekali bagi kaum muslimin untuk mempersiapkan diri masing-masing menuju suatu perjalanan dan peperangan yang jelas pula.

Rasulullah saw. mempersiapkan pasukan yang akan berangkat. Aku pun mempersiapkan diri untuk ikut serta, tiba-tiba timbul pikiran ingin membatalkannya, lalu aku berkata dalam hati, “Aku bisa melakukannya kalau aku mau!”

Akhirnya, aku terbawa oleh pikiranku yang ragu-ragu, hingga para pasukan kaum muslimin mulai meninggalkan Madinah. Aku lihat pasukan kaum muslimin mulai meninggalkan Madinah, maka timbul pikiranku untuk mengejar mereka, toh mereka belum jauh. Namun, aku tidak melakukannya, kemalasan menghampiri dan bahkan menguasai diriku.

Tampaknya aku ditakdirkan untuk tidak ikut Akan tetapi, sungguh aku merasakan penderitaan batin sejak Rasulullah saw. meninggalkan Madinah. Bila aku keluar rumah, maka di jalan-jalan aku merasakan keterkucilan diri sebab aku tidak melihat orang kecuali orang-orang yang diragukan keislamannya. Merekalah orang-orang yang sudah mendapatkan rukhshah atau ijinAllah Ta’ala untuk uzur atau kalau tidak demikian maka mereka adalah orang-orang munafik. Padahal, aku merasakan bahwa diriku tidak termasuk keduanya.

Konon, Rasulullah saw. tidak menyebut-nyebut namaku sampai ke Tabuk. Setibanya di sana, ketika beiau sedang duduk-duduk bersama sahabatnya, beliau bertanya, “Apa yang dilakukan Ka’ab bin Malik?”

Seorang dari Bani Salamah menjawab, “Ya Rasulullah, ia ujub pada keadaan dan dirinya!” Mu’az bin Jabal menyangkal, “Buruk benar ucapanmu itu! Demi Allah, ya Rasulullah, aku tidak pernah mengerti melainkan kebaikannya saja!”Rasulullahsaw. hanya terdiam saja.

Beberapa waktu setelah berlalu, aku mendengar Rasulllah saw. kembali dari kancah jihad Tabuk. Ada dalam pikiranku berbagai desakan dan dorongan untuk membawa alasan palsu ke hadapan Rasulullah saw., bagaimana caranya supaya tidak terkena marahnya? Aku minta pandapat dari beberapa orang keluargaku yang terkenal berpikiran baik. Akan tetapi, ketika aku mendengar Nabi saw., segera tiba di Madinah, lenyaplah semua pikiran jahat itu. Aku merasa yakin bahwa aku tidak akan pernah menyelamatkan diri dengan kebatilan itu sama sekali. Maka, aku bertekad bulat akan menemui Rasulullah saw. dan mengatakan dengan tidak sebenarnya.

Pagi-pagi, Rasulullah saw. memasuki kota Madinah. Sudah menjadi kebiasaan, kalau beliau kembali dari suatu perjalanan, pertama masuk ke masjid dan shalat dua rakaat. /Demikian pula usai dari Tabuk, selesai shalat beliau kemudian duduk melayani tamu-tamunya. Lantas, berdatanganlah orang-orang yang tidak ikut perang Tabuk dengan membawa alasan masing-masing diselingi sumpah palsu untuk menguatkan alasan mereka. Jumlah mereka kira-kira delapan puluhan orang. Rasulullah saw. menerima alasan lahir mereka; dan mereka pun memperbaharui baiat setia mereka. Beliau memohonkan ampunan bagi mereka dan menyerahkan soal batinnya kepada Allah. Tibalah giliranku, aku datang mengucapkan salam kepada beliau. Beliau membalas dengan senyuman pula, namun jelas terlihat bahwa senyuman beliau adalah senyuman yang memendam rasa marah. Beliau kemudian berkata, “Kemarilah!”

Aku pun menghampirinya, lalu duduk di hadapannya. Beliau tiba-tiba bertanya, “Wahai Ka’ab, mengapa dirimu tidak ikut? Bukankah kau telah menyatakan baiat kesetianmu?”

Aku menjawab, “Ya Rasulullah! Demi Allah. Kalau duduk di hadapan penduduk bumi yang lain, tentulah aku akan berhasil keluar dari amarah mereka dengan berbagai alasan dan dalil lainnya. Namun, demi Allah. Aku sadar kalau aku berbicara bohong kepadamu dan engkau pun menerima alasan kebohonganku, aku khawatir Allah akan membenciku. Kalau kini aku bicara jujur, kemudian karena itu engkau marah kepadaku, sesungguhnya aku berharap Allah akan mengampuni kealpaanku. Ya Rasululah saw., demi Allah, aku tidak punya uzur. Demi Allah, keadaan ekonomiku aku tidak pernah stabil disbanding tatkala aku mengikutimu itu!”

Rasulullah berkata, “Kalau begitu, tidak salah lagi. Kini, pergilah kau sehingga Allah menurunkan keputusan-Nya kepadamu!”

Aku pun pergi diikuti oleh orang-orang Bani Salamah. Mereka berkata kepada, “Demi Allah. Kami belum pernah melihatmu melakukan dosa sebelum ini. Kau tampaknya tidak mampu membuat-buat alasan seperti yang lain, padahal dosamu itu sudah terhapus oleh permohonan ampun Rasulullah!”

Mereka terus saja menyalahkan tindakanku itu hingga ingin rasanya aku kembali menghadap Rasullah saw. untuk membawa alasan palsu, sebagaimana orang lain melakukannya.

Aku bertanya kapada mereka, “Apakah ada orang yang senasib denganku?”

Mereka menjawab, “Ya! Ada dua orang yang jawabannya sama dengan apa yang kau perbuat. Sekarang mereka berdua juga mendapat keputusan yang sama dari Rasulullah sebagaimana keadaanmu sekarang!”

Aku bertanya lagi, “Siapakah mereka itu?”

Mereka menjawab, “Murarah bin Rabi’ah Al-Amiri dan Hilal bin Umayah Al-Waqifi.”

Mereka menyebutkan dua nama orang shalih yang pernah ikut dalam perang Badr dan yang patut diteladani. Begitu mereka menyebutkan dua nama orang itu, aku bergegas pergi menemui mereka.

Tak lama setelah itu, aku mendengar Rasululah melarang kaum muslimin berbicara dengan kami bertiga, di antara delapan puluhan orang yang tidak ikut dalam perang tersebut.

Kami mengucilkan diri dari masyarakat umum. Sikap mereka sudah lain kapada kami sehingga rasanya aku hidup di suatu negeri yang lain dari negeri yang aku kenal sebelumnya. Kedua rekanku itu mendekam di rumah masing-masing menangisi nasib dirinya, tetapi aku yang paling kuat dan tabah di antara mereka. Aku keluar untuk shalat jamaah dan kaluar masuk pasar meski tidak seorang pun yang mau berbicara denganku atau menanggapi bicaraku. Aku juga datang ke majilis Rasullah saw. sesudah beliau shalat. Aku mengucapkan salam kepada beliau, sembari hati kecilku bertanya-tanya memperhatikan bibir beliau, “Apakah beliau menggerakkan bibirnya menjawab salamku atau tidak?”

Aku juga shalat dekat sekali dengan beliau. Aku mencuri pandang melihat pandangan beliau. Kalau aku bangkit mau shalat, ia melihat kepadaku. Namun, apabila aku melihat kepadanya, ia palingkan mukanya cepat-cepat. Sikap dingin masyarakat kepadanya, ia palingkan mukanya cepat-cepat. Sikap dingin masyarakat kepadaku terasa lama sekali. Pada suatu hari, aku mengetuk pintu paga Abu Qaradah, saudara misanku dan ia adalah saudara yang paling aku cintai. Aku mengucapkan salam kepadanya, tetapi demi Allah, ia tidak menjawab salamku.

Aku menegurya, “Abu Qatadah! Aku mohon dengan nama Allah, apakah kau tau bahwa aku mencintai Allah dan Rasul-Nya?”

Ia diam. Aku mengulangi permohonanku itu, namun ia tetap terdiam. Aku mengulangi permohonanku itu, namun ia tetap terdiam. Aku mengulanginya sekali lagi, tapi ia hanya menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu!”

Air mataku tidak tertahankan lagi. Kemudian aku kembali dengan penuh rasa kecewa.

Pada suatu hari, aku berjalan-jalan ke pasar kota Madinag. Tiba-tiba datanglah orang awam dari negeri Syam. Orang itu biasanya mengantarkan dagangan pangan ke kota Madinah. Ia bertanya, “Siapakah yang mau menolongku menemui Ka’ab bin Malik?”

Orang-orang di pasar itu menunjuk kepdaku, lalu orang itu datang kepadaku dan menyerahkan sepucuk surat kepadaku dan menyerahkan sepucuk surat dari raja Ghassan. Setelah kubuka, isinya sebagai berikut, “… Selain dari itu, bahwa sahabatmu sudah bersikap dingin terhadapmu. Allah tidak menjadikan kau hidup terhina dan sirna. Maka, ikutlah dengan kami di Ghassan, kamu akan menghiburmu!”

Hatiku berkata ketika membaca surat itu, “Ini juga salah satu ujian!” Lalu aku memasukkan surat itu ke dalam tungku dan membakarnya.

Pada hari yang ke-40 dari pengasinganku di kampong halaman sendiri, ketika aku menanti-nantikan turunnya wahyu tiba-tiba datanglah kepadaku seorang pesuruh Rasulullah saw. menyampaikan pesannya, “Rasulullah memerintahkan kepadamu supaya kamu menjauhi istrimu!”

Aku semakin sedih, namun aku juga semakin pasrah kepada Allah, hingga terlontar pertanyaanku kepadanya, “Apakah aku harus menceraikannya atau apa yang akan kulakukan?”

Ia menjelaskan, “Tidak. Akan tetapi, kamu harus menjauhkan dirimu darinya dan menjauhkannya dari dirimu!”

Kiranya Rasulullah juga sudah mengirimkan pesannya kepada dua sahabatku yang bernasib sama. Aku langsung memerintahkan kepada istriku, “Pergilah kau kepada keluargamu sampai Allah memutuskan hukumnya kepada kita!”

Istri Hilal bin Umaiyah datang menghadap Rasulullah saw. lalu ia bertanya, “Ya Rasulullah, sebenarnya Hilal bin Umaiyah seorang yang sudah sangat tua, lagi pula ia tidak memiliki seorang pembantu. Apakah ada keberatan kalau aku melayaninya di rumah?”

Rasulullah saw. menjawab, “Tidak! Akan tetapi ia tidak boleh mendekatimu!”

Istri Hilal menjelaskan, “Ya Rasulullah! Ia sudah tidak bersemangat pada yang itu lagi. Demi Allah, yang dilakukannya hanya menangisi dosanya sejak saat itu hingga kini!”

Ada seorang familiku yang juga mengusulkan, “Coba minta izin kepada Rasulullah supaya istrimu melayai dirimu seperti halanya istri Hilal bin Umayah!”

Aku menjawab tegas, “Tidak Aku tidak akan minta izin kepada Rasulullah saw. tentang istriku. Apa katanya kelak, sedangkan aku masih muda?”

Akhirnya, hari-hari selanjutnya aku hidup seorang diri di rumah. Lengkaplah bilangan malam sejak orang-orang dicegah berbicara denganku menjadi 50 hari 50 malam. Pada waktu sedang shalat subuh di suatu pagi dari malam yang ke-50 ketika aku sedang dudung berdzkir minta ampun dan mohon dilepaskan dari kesempitan hidup dalam alam yang luas ini, tiba-tiba aku mendengar teriakan orang-orang memanggil namaku. ‘Wahai Ka’ab bin Malik, bergembiralah! Wahai Ka’ab bin Malik, bergembiralah!”

Mendengar berita itu aku langsung sujud memanjatkan syukur kepada Allah. Aku yakin pembebasan hukuman telah dikeluarkan. Aku yakin, Allah telah menurunkan ampunan-Nya.

Rasulullah menyampaikan berita itu kepada shahabat-shahabatnya seusai shalat shubuh bahwa Allah telah mengampuni aku dan dua orang shahabatku. Berlomba-lombalah orang mendatangi kami, hendak menceritakan berita germbira itu. Ada yang datang dengan berkuda, ada pula yang datang dengan berlari dari jauh mendahului yang berkuda. Sesudah keduanya sampai di hadapanku, aku berikan kepada dua orang itu kedua pakaian yang aku miliki. Demi Allah, saat itu aku tidak memiliki pakaian kecuali yang dua itu.

Aku mencari pinjaman pakaian untuk menghadap Rasullah. Ternyata aku telah disambut banyak orang dan dengan serta merta mereka mengucapkan selamat kepadaku. Demi Allah, tidak seorang pun dari muhajirin yang berdiri dan memberi ucapan selamat selain Thal’ah. Sikap Thalhah itu tak mungkin aku lupakan. Sesudah aku mengucapkan salam kepada Rasulullah, mukanya tampak cerah dan gembira, katanya kemudian, “Bergembiralah kau atas hari ini! Inilah hari yang paling baik bagimu sejak kau dilahirkan oleh ibumu!”

“Apakah dari Allah ataukah dari engkau ya Rasulullah?” tanyaku sabar.

“Bukan dariku! Pengampunan itu datangnya dari Allah!” jawab Rasul saw.

Demi Allah, aku belum pernah merasakan besarnya nikmat Allah kepadaku sesudah Dia memberi hidayah Islam kepadaku, lebih besar bagi jiwaku daripada sikap jujurku kepada Rasulullah saw.”

Ka’ab lalu membaca ayat pengampunannya itu dengan penuh haru dan syahdu, sementara air matanya berderai membasahi kedua pipinya.

“Dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas, dan jiwa mereka pun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah melainkan kepada-Nya saja. Kemudian, Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah-lah Yang Maha Menerima taubat lagi Maha Penyayang.” (At-Taubah:118)



Gimana setelah membaca kisah di atas?



Sekarang kita hubungkan dengan kehidupan saat ini. Kalau Ka’ab bin Malik absen dari perang, kalau kita saat ini kita hubungkan dengan amanah-amanah kita. Bagaimana sikap kita ketika mendapat seruan untuk dakwah? Bagaimana sikap kita ketika mendapatkan amanah? Apakah kita memiliki ruhul istijabah dan bersigera untuk melaksanakannya? Apakah justru sebaliknya kita merasa enggan, malas dan akhirnya tidak berangkat seperti kisahnya Ka’ab bin Malik itu?

Kondisi yang dialami Ka’ab bin Malik saat itu adalah contoh kondisi ketika mengalami futur, ketika kondisi keimanannya lemah. Ka’ab bukan termasuk golongan orang munafik yang mengudzurkan dirinya untuk tidak ikut perang dengan berbagai alasan. Tetapi beliau jujur kepada Rasulullah menyadari kesalahannya dan bertaubat. Beliau segera bangkit dari kondisi futurnya dan ikhlas menerima hukuman apapun. Bagaimana dengan diri kita? Apakah kita akan mengudzurkan diri kita dengan berbagai alasan ketika kita diberi amanah, padahal alasan sebenarnya karena kemalasan kita. Apakah kita akan menyalahgunakan kepandaian kita untuk membuat-buat alasan. Apakah kita sering gak datang syuro tanpa alasan yang syar’i karena kita males atau mendahulukan yang lain yang tidak penting. Atau mungkin datang tapi sengaja telat karena menunda-nunda keberangkatannya tanpa ada udzur apapun. Padahal dalam sebuah ayat Al Qur’an, kita disuruh untuk berangkat jihad dalam keadaan merasa berat maupun ringan

Coba kita simak surat At-Taubah:41-49

Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.Kalau yang kamu serukan kepada mereka itu keuntungan yang mudah diperoleh dan perjalanan yang tidak seberapa jauh, pastilah mereka mengikutimu, tetapi tempat yang dituju itu amat jauh terasa oleh mereka. Mereka akan bersumpah dengan (nama) Allah : “Jikalau kami sanggup tentulah kami berangkat bersama-samamu.” Mereka membinasakan diri mereka sendiri dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang yang berdusta.Semoga Allah mema`afkanmu. Mengapa kamu memberi izin kepada mereka (untuk tidak pergi berperang), sebelum jelas bagimu orang-orang yang benar (dalam keuzurannya) dan sebelum kamu ketahui orang-orang yang berdusta? Orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, tidak akan meminta izin kepadamu untuk tidak ikut berjihad dengan harta dan diri mereka. Dan Allah mengetahui orang-orang yang bertakwa.Sesungguhnya yang akan meminta izin kepadamu, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan hati mereka ragu-ragu, karena itu mereka selalu bimbang dalam keraguannya.Dan jika mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu, tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Allah melemahkan keinginan mereka. Dan dikatakan kepada mereka: “Tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal itu.”Jika mereka berangkat bersama-sama kamu, niscaya mereka tidak menambah kamu selain dari kerusakan belaka, dan tentu mereka akan bergegas maju ke muka di celah-celah barisanmu, untuk mengadakan kekacauan di antara kamu; sedang di antara kamu ada orang-orang yang amat suka mendengarkan perkataan mereka. Dan Allah mengetahui orang-orang yang zalim.Sesungguhnya dari dahulupun mereka telah mencari-cari kekacauan dan mereka mengatur berbagai macam tipu daya untuk (merusakkan)mu, hingga datanglah kebenaran (pertolongan Allah) dan menanglah agama Allah, padahal mereka tidak menyukainya.Di antara mereka ada orang yang berkata: “Berilah saya keizinan (tidak pergi berperang) dan janganlah kamu menjadikan saya terjerumus dalam fitnah.” Ketahuilah bahwa mereka telah terjerumus ke dalam fitnah. Dan sesungguhnya Jahannam itu benar-benar meliputi orang-orang yang kafir. (QS.At-Taubah:41-49)

Dan bagaimana pula sikap kita jika kita ditegur terhadap kekhilafan kita? Apakah kita akan ikhlas menerimanya dan berusaha memperbaikinya serta bersikap tajarud seperti halnya Ka’ab ataukah kita justru mutung, merasa kecewa dan akhirnya keluar dari jalan Da'wah, ya.........., up to you.....

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

PRINSIP-PRINSIP DASAR MANAJEMEN DALAM MEDIA MASSA

PRINSIP-PRINSIP DASAR MANAJEMEN DALAM MEDIA MASSA
Oleh :Soekartono

Kata Manajemen berasal dari bahasa Prancis kuno ménagement, yang memiliki arti seni melaksanakan dan mengatur. Manajemen belum memiliki definisi yang mapan dan diterima secara universal.Mary Parker Follet, misalnya, mendefinisikan manajemen sebagai seni menyelesaikan pekerjaan melalui orang lain. Definisi ini berarti bahwa seorang manajer bertugas mengatur dan mengarahkan orang lain untuk mencapai tujuan organisasi. Sementara itu, Ricky W. Griffin mendefinisikan manajemen sebagai sebuah proses perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian, dan pengontrolan sumber daya untuk mencapai sasaran (goals) secara efektif dan efesien. Efektif berarti bahwa tujuan dapat dicapai sesuai dengan perencanaan, sementara efisien berarti bahwa tugas yang ada dilaksanakan secara benar, terorganisir, dan sesuai dengan jadwal; dalam berbagai bidang seperti industri, pendidikan, kesehatan, bisnis, finansial dan sebagainya. Dengan kata lain efektif menyangkut tujuan dan efisien menyangkut cara dan lamanya suatu proses mencapai tujuan tersebut. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI: 553, 1990) menyebutkan, manajemen adalah proses penggunaan sumber daya secara efektif untuk mecapai sasaran.

Bagaimana Menerapkan Kebijakan dan Strategi

1.Semua kebijakan harus didiskusikan dengan semua personel manajerial dan staf.
2.Manajer harus mengerti dimana dan bagaimana mereka menerapkannya.
3.Rencana sebuah tindakan harus diberitahukan pada setiap departemen.
4.Kebijakan dan strategi harus diperiksa ulang secara berkala.
5.Perencanaan cadangan harus dipikirkan dalam kasus perubahan.

Fungsi Manajemen

Manajemen beroperasi melalui bermacam fungsi, biasanya digolongkan pada perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan atau motivasi dan pengaturan.

1.Perencanaan: memutuskan apa yang harus terjadi esok hari dan seterusnya dan membuat rencana untuk dilaksanakan.

2.Pengorganisasian: membuat penggunaan maksimal dari sumberdaya yang dibutuhkan untuk melaksanakan rencana dengan baik.

3.Leading/Kepemimpinan dan Motivasi: memakai kemampuan di area ini untuk membuat yang lain mengambil peran dengan efektif dalam mencapai suatu rencana

4.Pengendalian: monitoting – memantau kemajuan rencana, yang mungkin membutuhkan perubahan tergantung apa yang terjadi

Tingkatan Manajemen Keredaksian


1.Pimpinan Redaksi
Merupakan manajemen tingkat atas. Bertugas merencanakan kegiatan dan strategi keredaksian secara umum dan mengarahkan jalannya proses redaksi.

1.Middle management atau manajemen tingkat menengah bertugas sebagai penghubung antara manajemen puncak dan manajemen lini pertama, misalnya Wakil Pimpinan Redaksi atau Redaktur Pelaksana.

2.Lower management atau manejemen lini pertama (first-line management) adalah manajemen yang memimpin dan mengawasi tenaga-tenaga operasional. Manajemen ini dikenal pula dengan istilah manajemen operasional. Umumnya para redaktur halaman atau redaktur desk. Ada khusus halaman ekonomi, politik, pendidikan, kriminal, hukum dst.

Manajemen Mengandung Lima Fungsi:

1. perencanaan
2. pengorganisasian
3. kepemimpinan
4. koordinasi
5. pengaturan

Manajemen Keredaksian

Manajemen keredaksian dapat diartikan proses antar orang yang merupakan satu kesatuan secara efektif dalam sebuah organisasi media massa untuk mencapai tujuan atau sasaran. Manajemen keredaksian adalah perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan terhadap pengadaan, pengembangan, kompensasi, integrasi dan pemeliharaan orang-orang dengan tujuan membantu mencapai tujuan organisasi (pers), individual dan masyarakat. Paling penting adalah bagaimana individu-individu yang terlibat dalam organisasi harus mampu terlebih dahulu memanajemen pribadinya masing-masing. Manajemen pribadi tersebut meliputi beberapa hal antara lain: perencanaan kegiatan, pengorganisasian kegiatan, pelaksanaan kegiatan, evaluasi kegiatan dan pengawasan kegiatan dengan pemanfaatan waktu seefektif dan seefisien mungkin. Bila tiap individu di dalam organisasi menyadari betul akan posisi masing-masing dengan job description (deskripsi tugas) yang jelas dan tegas, maka perencanaan akan mudah dibangun dan diterapkan.

Ada dua bagian besar sebuah penerbitan pers atau media massa: Bagian Redaksi (Editor Department) dan Bagian Pemasaran atau Bagian Usaha (Business Department). Bagian Redaksi dipimpin oleh Pemimpin Redaksi. Bagian Pemasaran dipimpin olen Manajer Pemasaran atau Pemimpin Usaha. Di atas keduanya adalah Pemimpin Umum (General Manager). Ada juga Pemimpin Umum yang merangkap Pemimpin Redaksi.

Bagian Redaksi tugasnya meliput, menyusun, menulis, atau menyajikan informasi berupa berita, opini, atau feature. Orang-orangnya disebut wartawan. Redaksi merupakan merupakan sisi ideal sebuah media atau penerbitan pers yang menjalankan visi, misi, atau idealisme media.Bagian Redaksi dikepalai oleh seorang Pemimpin Redaksi. Di bawah Pemred biasanya ada Wakil Pemred yang bertugas sebagai pelaksana tugas dan penanggungjawab sehari-hari di bagian redaksi

Pemred/Wapemred membawahi seorang atau lebih Redaktur Pelaksana yang mengkoordinasi para Redaktur (Editor), Koordinator Reporter atau Koordinator Liputan (jika diperlukan), para Reporter dan Fotografer, Koresponden, dan Kontributor. Termasuk Kontributor adalah para penulis lepas (artikel) dan kolumnis. Di Bagian Redaksi ada pula yang disebut Dewan Redaksi atau Penasihat Redaksi. Biasanya terdiri dari Pemred, Wapemred, Redpel, Pemimpin Usaha, dan orang-orang yang dipilih menjadi penasihat bidang keredaksian. Ada pula yang disebut Staf Ahli atau Redaktur Ahli, yakni orang-orang yang memiliki keahlian di bidang keilmuwan tertentu yang sewaktu-waktu masukan atau pendapatnya sangat dibutuhkan redaksi untuk kepentingan pemberitaan atau analisis berita. Bagian lain yang terkait dengan bidang keredaksian adalah Redaktur Pracetak yang membidangi tugas Desain Grafis (Setting, Lay Out, dan Artistik) serta Perpustakaan dan Dokumentasi. Dalam hal tertentu, bagian Penelitian dan Pengembangan (Litbang) dapat masuk ke bagian Redaksi.

Tugas

1. Pemimpin Umum (General Manager)

Ia bertanggung jawab atas keseluruhan jalannya penerbitan pers, baik ke dalam maupun ke luar. Ia dapat melimpahkan pertanggungjawabannya terhadap hukum kepada Pemimpin Redaksi sepanjang menyangkut isi penerbitan (redaksional) dan kepada Pemimpin Usaha sepanjang menyangkut pengusahaan penerbitan.

2. Pemimpin Redaksi

Pemimpin Redaksi (Editor in Chief) bertanggung jawab terhadap mekanisme dan aktivitas kerja keredaksian sehari-hari. Ia harus mengawasi isi seluruh rubrik media massa yang dipimpinnya. Di suratkabar mana pun, Pemimpin Redaksi menetapkan kebijakan dan mengawasi seluruh kegiatan redaksional. Ia bertindak sebagai jenderal atau komandan yang perintah atau kebijakannya harus dipatuhi bawahannya. Kewenangan itu dimiliki katena ia harus bertanggung jawab jika pemberitaan medianya ?digugat? pihak lain. Pemimpin Redaksi juga bertanggung jawab atas penulisan dan isi Tajuk rencana (Editorial) yang merupakan opini redaksi (Desk opinion). Jika Pemred berhalangan menulisnya, lazim pula tajuk dibuat oleh Redaktur Pelaksana, salah seorang anggota Dewan Redaksi, salah seorang Redaktur, bahkan seorang Reporter atau siapa pun ? dengan seizin dan sepengetahuan Pemimpin Redaksi? yang mampu menulisnya dengan menyuarakan pendapat korannya mengenai suatu masalah aktual.
3. Dewan Redaksi

Dewan Redaksi biasanya beranggotakan Pemimpin Umum, Pemimpin Redaksi dan Wakilnya, Redaktur Pelaksana, dan orang-orang yang dipandang kompeten menjadi penasihat bagian redaksi. Dewan Redaksi bertugas memberi masukan kepada jajaran redaksi dalam melaksanakan pekerjaan redaksional. Dewan Redaksi pula yang mengatasi permasalahan penting redaksional, misalnya menyangkut berita yang sangat sensitif atau sesuai-tidaknya berita yang dibuat tersebut dengan visi dan misi penerbitan yang sudah disepakati.

4. Redaktur Pelaksana

Di bawah Pemred biasanya ada Redaktur Pelaksana (Managing Editor). Tanggung jawabnya hampir sama dengan Pemred/Wapemred, namun lebih bersifat teknis. Dialah yang memimpin langsung aktivitas peliputan dan pembuatan berita oleh para reporter dan editor.

5. Redaktur

Redaktur (editor) sebuah penerbitan pers biasanya lebih dari satu. Tugas utamanya adalah melakukan editing atau penyuntingan, yakni aktivitas penyeleksian dan perbaikan naskah yang akan dimuat atau disiarkan. Di internal redaksi, mereka disebut Redaktur Desk (Desk Editor), Redaktur Bidang, atau Redaktur Halaman karena bertanggung jawab penuh atas isi rubrik tertentu dan editingnya. Seorang redaktur biasanya menangani satu rubrik, misalnya rubrik ekonomi, luar negeri, olahraga, dsb.

6. Redaktur Pracetak

Setingkat dengan Redaktur/Editor adalah Redaktur Pracetak atau Redaktur Artistik. Ia bertanggung jawab menangani? Naskah Siap Cetak? (All In Hand/All Up) dari para redaktur, yaitu semua naskah berita yang sudah diturunkan ke percetakan dan sudah diset bersih, desain cover dan perwajahan (tataletak, lay out, artistik), dan hal-ihwal sebelum koran dicetak. Bagian lain di yang berada di bawah koordinasi Redaktur Pracetak adalah Setter atau juruketik naskah. Ia bertugas mengetik naskah yang akan dimuat. Ada pula Korektor yang bertugas mengoreksi (membetulkan) kesalahan ketik pada naskah yang siap cetak.

7.Reporter

Di bawah para editor adalah para Reporter. Mereka merupakan? prajurit? di bagian redaksi. Mencari berita lalu membuat atau menyusunnya, merupakan tugas pokoknya.

8.Fotografer

Fotografer (wartawan foto atau juru potret) tugasnya mengambil gambar peristiwa atau objek tertentu yang bernilai berita atau untuk melengkapi tulisan berita yang dibuat wartawan tulis. Ia merupakan mitra kerja yang setaraf dengan wartawan tulisan (reporter). Jika tugas wartawan tulis menghasilkan karya jurnalistik berupa tulisan berita, opini, atau feature, maka fotografer menghasilkan Foto Jurnalistik (Journalistic Photography, Photographic Communications). Fotografer menyampaikan informasi atau pesan melalui gambar yang ia potret. Fungsi foto jurnalistik antara lain menginformasikan (to inform), meyakinkan (to persuade), dan menghibur (to entertain).

9. Koresponden

Selain reporter, media massa biasanya memiliki pula Koresponden (correspondent) atau wartawan daerah, yaitu wartawan yang ditempatkan di negara lain atau di kota lain (daerah), di luar wilayah di mana media massanya berpusat.

10. Kontributor

Kontributur atau penyumbang naskah/tulisan secara struktural tidak tercantum dalam struktur organisasi redaksi. Ia terlibat di bagian redaksi secara fungsional. Termasuk kontributor adalah para penulis artikel, kolomnis, dan karikaturis. Para sastrawan juga menjadi kontributor ketika mereka mengirimkan karya sastranya (puisi, cerpen, esei) ke sebuah media massa. Wartawan Lepas (Freelance Journalist) juga termasuk kontributor. Wartawan Lepas adalah wartawan yang tidak terikat pada media massa tertentu, sehingga bebas mengirimkan berita untuk dimuat di media mana saja, dan menerima honorarium atas tulisannya yang dimuat. Termasuk kontributor adalah Wartawan Pembantu (Stringer). Ia bekerja untuk sebuah perusahaan pers, namun tidak menjadi karyawan tetap perusahaan tersebut. Ia menerima honorarium atas tulisan yang dikirim atau dimuat.

11. Bidang Pendukung Redaksi

Bagian yang tak kalah pentingnya untuk membantu kelancaran kerja redaksi adalah bagian Perpustakaan dan Dokumentasi serta bagian Penelitian dan Pengembangan (Litbang). Litbang memantau perkembangan sebuah penerbitan, survei pembaca, dan memberikan masukan-masukan bagi pengembangan redaksional dan bagian lainnya, termasuk pembinaan dan pengembangan kualitas sumber daya manusia.

12. Bagian Usaha (Business Department)

Bertugas menyebarluaskan media massa, yakni melakukan pemasaran (marketing) atau penjualan (saling) media massa. Bagian ini merupakan sisi komersial meliputi sirkulasi/distribusi, iklan, dan promosi. Biasanya, bagian pemasaran dipimpin oleh seorang. Pemimpin Perusahaan atau seorang Manajer Pemasaran (Marketing Manager) yang membawahkan Manajer Sirkulasi, Manajer Iklan, dan Manajer Promosi.

Prinsip Dasar Sistem Pekerjaan Kewartawan

1.News Gathering. Hal ini adalah proses awal dari sistem pemberitaan, yakni tahapan satu organisasi media massa yang diwakili wartawannya mulai mengumpulkan berita.

2.News Editing. Hal ini adalah proses lanjutan dari sistem pemberitaan, yakni tahapan satu organisasi media massa yang diwakili oleh para redaktur melakukan penyuntingan berita.

3.News Distributing. Hal ini adalah proses akhir dari sistem pemberitan, yakni tahapan satu organisasi media massa menyebarkan berita kepada publiknya.

4.News Evaluating. Hal ini banyak berkaitan dengan sistem media massa yang senantiasa berupaya mengembangkan mutu -bukan hanya jumlah-beritanya, sehingga menerapkan pola analisa isi (contents analysist) yang biasanya dilakukan oleh satu unit/divisi khusus dalam manajemen keredaksian. Dari tahapan evaluasi tersebut, maka media massa berupaya pula mengadakan perbaikan mutu isi karya jurnalistiknya melalui “editorial clinic” dan pendidikan berkelanjutan (continuing education).

Manjemen sebuah keredaksian pada dasarnya dibuat berdasarkan kebutuhan institusi pers yang bersangkutan. Untuk sebuah penerbitan koordinator liputan penting, namun bagi yang lain tidak. Begitu juga sebaliknya. Tujuan utamanya bagaimana agar institusi keredaksian bisa berjalan dengan baik dan sesuai dengan perencanaan.

Referensi
1. http://muhabduh.multiply.com/reviews/item/3
2. http://stefanuskim.blogspot.com
3. http://id.wikipedia.org/wiki/Manajemen
4. Vedemakum Wartawan, Reportase Dasar KPG 1997
5. Sembilan Elemen Jurnalisme: Bill Kovach & Tom Rosenstial.
6. Seandainya Saya Wartawan Tempo: pengantar Goenawan Mohamad; ISAI dan Yayasan Alumni Tempo 1997.
7. Jurnalisme Dasar: Luwi Ishwara; Penerbit Buku Kompas, Desember 2005
8. Penulis yang Sukses: Wilson Nadeak; Sinar Baru Bandung 1983.
9. Jurnalisme Sastrawi, Editor Andreas Harsono & Budi Setiono, Yayasan Pantau Oktober 2005.
10. Reportase Investigasi: Menelisik Lorong Gelap, Dadi Sumaatmadja, LaTofi Enterprise April 2005.
11. Bagaimana Meliput dan Menulis Berita untuk Media Massa: Ashadi Siregar dkk, Kanisius 1999.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS