DIMENSI RUHANI MANUSIA

Oleh: Hasani Ahmad Said

Tulisan ini pernah dimuat di Opini Koran Kabar Banten,Sabtu,9 Okt 2010

Manusia secara fisik tak ubahnya seperti belalang kecil yang hinggap di pohon-pohon. Tetapi dalam diri yang kecil itu terdapat arsy Tuhan, yang luasnya lebih luas dari bumi dan langit, demikian ungkapan Jalaludin Rumi.

Manusia pada hakikatnya terdiri atas dua dimensi. Dimensi jasmani dan ruhani. Dua dimensi itu selayaknya harus tersentuh proses pembelajaran dalam hidup manusia. Dimensi ruhani ada dan terdapat dalam qalbu, ruh, nafs, dan aqal yang pada gilirannya membawa ketentraman baik jiwa manusia di tengah kegelisahan kehidupan dunia modern sekarang, atau malah sebaliknya.

Baiklah coba satu persatu diuraikan dalam tulisan ini untuk menemukan eksistensi manusia,sesungguhnya sebagai manusia yang diposiskan sesempurnanya ciptaan.

Pertama Qalb yang bermakna membalik, kembali, maju-mundur, naik turun, berubah-ubah. Kata ini digunakan untuk menamai bagian dalam dari manusia yang menjadi sentral diri manusia itu sendiri, yang kita terjemahkan dengan hati.

Qalb yang suci bagaikan bola lampu kristal yang jernih dan tampak titik apinya, tempat bertemunya minyak dan api, dari luarnya diterangi oleh cahaya iman sedangkan di dalamnya diterangi cahaya ruh suci; sehingga terberkatilah dua rumah: rumah jiwa dan rumah jasad oleh cahaya-cahaya tersebut

Al-Ghazali (w. 505 H.), dari kalangan sufi, mencoba menjelaskan pengertian qalb dengan terlebih dahulu membuat kategori yakni qalb dalam pengertian fisik, yaitu segumpal daging sebagian organ tubuh yang terletak pada bagian kiri ronga dada, dan merupakan sentral peredaran darah; di mana darah itu yang membawa kepada kehidupan. Al-Ghazali mengatakan, hati dalam kategori ini adalah hati biologis yang menjadi obyek kajian para ahli kesehatan.

Kedua adalah Ruh, kata Ruh berasal dari akar kata r w h. Dalam hal ini, makna resmi kata tersebut yang berarti nyawa yang menggerakkan makhluk hidup, dapat dipahami secara intuitif sebagai udara yang menggerakkan jasad manusia. Karena udara tidak dapat dilihat, maka demikian pula ruh, yang hanya dapat dirasakan keberadaannya yang seperti angin itu.

Ruh mengantar pada ilahi, jasad membawa pada keduniawian. Ruhani adalah yang mengendalikan, memberikan visi dan nilai-nilai bimbingan kepada jiwa-jiwa nabati, hewani dan insani. Ruh kita sesungguhnya perwujudan arsy Tuhan. Jangkauannya lebih luas dari bumi.

Jadi, kalau kita mencintai dunia berarti kita memenjarakan ruh kita di sangkar yang kecil. Mana mungkin burung elang itu bisa bahagia di dalam sangkar yang kecil. Bebaskan ruh kita dari sangkar dunia.

Dalam kalangan Sufi, ruh tidak mereka definisikan, tetapi mereka melihatnya dari sisi bahwa Ruh adalah alat bagi manusia dalam berhubungan dengan Tuhan. Ruh iru erat hubungannya dengan jantung, di mana ia beredar bersama peredaran darah, sehingga kalau detak jantung sudah berhenti, maka berakhir pulalah ruh itu.
Akan tetapi, ruh yang menjadi sasaran tasawuf adalah ruh lathifah al-‘Alimah al-mudrikah min al-insan (sesuatu yang halus, yang mengetahui dan mempersepsi, yang terdapat dalam diri manusia), atau sama pengertiannya hati dalam kategori kedua di atas.

Ketiga, Nafs, istilah Nafs dalam Al-Qur’an yang jama’nya anfus dan nufus diartikan jiwa (soul), pribadi (person), diri (self atau selves), hidup (life), hati (heart), atau pikiran (mind), di samping juga dipakai untuk beberapa arti lainnya.

Mengungkap tentang Al-Nafs tidak dapat dipisahkan dengan ruh; sejatinya keduanya harus didudukkan sapu paket. Ruh itu dari Allah (Qul al-ruhu min amri Rabbi), sedangkan Allah itu maha suci dan immateri. Maka ruh itupun bersifat immateri dan suci.

Nurcholis Madjid menjelaskan bahwa nafs atau nafsu, emosi, memiliki kecenderungan terhadap kejelekan. Namun demikian, emosi yang ada pada manusia ibarat pisau bermata dua, emosi dapat membawa bencana, tetapi juga mendorong manusia mencapai puncak keilmuan yang sangat tinggi.

Nafsu menempati bagian jantung manusia, sedang akal menempati otak manusia.
Al-Qur’an juga menyebut “Fakasauna al-idzama lahma” lalu tulang belulang itu kami bungkus dengan daging (Q.S. Al Mu’minun [23]:14). Tatkala usia kandungan sembilan puluh hari proses pembentukan tubuh mulai berlangsung.

Maka nafs (jiwa), sebaiknya dipahami sebagai totalitas daya-daya ruhani berikut interaksinya dan aktualisasinya dalam kehidupan manusia. Quraish Shihab cenderung memahami Nafs sebagai sesuatu yang merupakan hasil perpaduan jasmani dan ruhani manusia. Perpaduan yang kemudian menjadikan yang bersangkutan mengenal perasaan, emosi, dan pengetahuan serta dikenal dan dibedakan dengan manusia-manusia lainnya.
Keempat, ‘Aql yang berarti ikatan, batasan, atau menahan.

Al-Ghazali meng-kategorikan akal atas dua pengertian. Pertama Akal dikaitkan dengan pengetahuan tentang suatu realitas, kedua Akal diartikan sama dengan kalbu. Jadi hati tak berbeda dengan akal. Meski demikian, kaum sufi menempatkan akal identik dengan dzawk (perasaan batin). Oleh karena itu, mereka berkeyakinan bahwa akal yang mampu mempersepsi sesuatu, sehingga menjadi sebuah konsep.

Dari uraian di atas, bisa dikatakan bahwa manusia tidak terlepas dari empat dimensi di atas. Kemudian, hati, ruh, nafsu, dan akal akan membawa kepada manusia yang sesungguhnya. Dalam artian bahwa dengan empat dimensi itu, manusia akan menjadi posisi/kedudukan yang terhormat, juga sebaliknya, bisa juga dalam posisi tersungkur atau hina.

Alquran menggambarkan mengenai penciptaan manusia sebaik-baik ciptaan (fî ahsani taqwîm). Akan tetapi posisi yang Allah berikan dalam posisi terbaik itu, bisa juga berbalik 180 derajat karena ulah manusia, yang kemudian digambarkan oleh Alquran sebagai sehina-hinanya manusia. Bahkan, manusia akan terlempar ke dasar kerak neraka.
Tepatlah kiranya, dua potensi yang Allah gambarkan dalam Q.S. al-Syams yakni Allah mengilhamkan kejelekan dan ketakwaan. Pertanyaannya tinggal pilih yang mana? Maka, dalam hal ini keempat dimensi di atas yang akan membawa manusia kelembah ke-takwaan atau kejelekan.


* Penulis adalah Dosen tetap Fakultas Syari’ah IAIN Raden Intan, Lampung & Kandidat Doktor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Saat ini tinggal di Pabean, Purwakarta, Cilegon, Banten.
Diposkan oleh DR. Hasani Ahmad Said, M.A. di 10.34

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Sikaya Yang Bodoh

Ini cerita tentang berlian,tp bkn cerita brlian belina y

hurf...
Sikaya mnghela nafasnya dlm2,n mnarik air liurnya dlm2

"huh,siang ini panas jg nih cuaca,serasa diarab"
lantas si kaya ini pun langsung brgegas plng ,tp baru bberapa langkah ia brjalan ia seperti mlihat benda yg sdikit brkilau dsudut kubangan lumpur yg ada dsudut pohon yg ada di taman itu,lantas ia pun penasaran n langsung mngambil benda itu dengan gaya jijik mengangkat benda itu,lantas ia pun berfikir,"kok kilau benda ini sperti berlian ya,ah ane cuci ah,siape tau aj ni berlian bisa bersih n memancarkan sinarnya", tapi setelah ia mencoba berulang kali membersihkan berlian ini tetap saja tidak bersih,masih ada kerak kotoran tanah diberlian ini,yg pada akhirnya ia pun hilang kesabaran dan lantas mmbuang brlian itu keluar rumahnya

Tapi tiba-tiba datang sipemulung sholeh lewat didepan rumah si kaya,dan melihat benda berkilau itu,lantas ia pun bertanya kepada si kaya "maaf tuan,apakah tuan sudah tidak membutuhkan benda ini lagi ?,apakah boleh benda ini untuk saya,"ya silahkan ambil saja,saya sudah lelah membersihkn benda itu tapi tetap saja ngak bersih-bersih"

Akhirnya si pemulung ini membawa pulang berlian ini dengan perasaan gembira
akhirnya ia pun membersihkan berlian ini dengan sabarnya dan dengan cara yg unik

jeng...jeng...jeng
dan pada akhirnya kesokan harinya ia mendapati berlian itu dalam keadaan berkilau

wah benda ini seperti perhiasan yak,ah besok coba jual kepasar,siapa tau duitnye bisa buat makan besok

Dan ketika itu lantas ia pun menjual perhiasan,yang pada akhirnya dihargai dengan harga yang fantastis,semenjak itu si pemulung ini menjadi seorang milyader kaya.

Inilah gambaran diri kita,kita yg merasa bersih sering kali menjauhi diri dari orang-orang yang mungkin selalu melakukan maksiat,ketika ingin membersihkannya,tapi tak tau bagaimana cara membersihkannya,dan juga kita sering kali membuang sesuatu yang padahal berharga,yg pd akhirnya hanya orang-orang yg bersabarlah yg mendapatkan keuntungannya,dan sikaya ini adalah gambaran orang yang berilmu yang tak bijaksana dan sebenarnya kurang cerdas

^_^

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Wanita Pendaki Bersaing ke Puncak Himalaya


20 April 2010 oleh jedadulu .com


Hanya satu puncak gunung lagi yang harus didaki oleh Edurne Pasaban. (foto: bbc.co.uk)

MADRID–Entah ada hubungannya dengan Hari Kartini di Indonesia atau tidak, Rabu (21/4), dua pendaki gunung wanita paling terkenal di dunia sedang berlomba untuk menjadi wanita pertama yang berhasil menaklukkan 14 gunung tertinggi dunia. Tim kedua pendaki gunung ini sedang bersiap-siap mendaki puncak gunung yang terakhir.
Keduanya punya peluang untuk mencatat rekor. Hanya satu pendakian lagi yang harus dilakukan oleh pendaki asal Spanyol, Edurne Pasaban, setelah mulai mendaki puncak gunung Himalaya hari Sabtu (17/4). Namun pesaing utamanya dari Korea Selatan, Oh Eun-sun, juga sudah berada di lereng gunung ke-14 yang harus didaki.

Seperti dilansir bbc.co.uk, Selasa (20/4), kompetisi antara keduanya semakin memanas pada pekan-pekan terakhir untuk mendaki gunung tinggi dunia, dengan puncak 8.000 meter dari permukaan laut.

Hari Sabtu, Pasaban mendaki Annapurna, salah satu puncak gunung Himalaya yang paling berbahaya, dan tinggal satu puncak gunung lagi yang harus didakinya untuk menjadi wanita pertama yang berhasil mendaki keempat belas gunung dengan ketinggian di atas 8000 meter itu.

Pendaki asal Basque, Spanyol utara, yang berusia 36 tahun ini berhasil mencapai puncak gunung setinggi 8.091 meter itu bersama beberapa orang pendaki gunung asal Spanyol lainnya, kata jurubicara kepada kantor berita AFP.

Hanya puncak gunung Shisha Pangma di Tibet dengan ketinggian 8.027 yang masih harus ditaklukkan untuk mecatat rekor dalam sejarah pendakian gunung oleh pendaki perempuan.

Oh Eun-sun sekarang sedang berada di lereng Annapurna, yang akan menjadi puncak ke-14 dan yang terakhir baginya. Tetapi puncak gunung dengan ketinggian 8.091 meter itu sangat berbahaya karena secara teknis sulit didaki dan sering mengalami salju longsor.

Gunung itu mencatat angka kematian yang lebih tinggi daripada Everest, yang merupakan puncak gunung tertinggi di dunia. Pendaki Korea Selatan berusia 44 tahun itu sedang menyesuaikan diri dengan keadaan sekitar di Base Camp 2 dan berharap bisa mencoba mendaki puncak Annapurna.

Eun-sun sekarang tampaknya berada pada posisi yang lebih menguntungkan, kendati gunung yang terdapat di Nepal itu lebih sulit didaki. Annapurna sudah menyebabkan 130 orang tewas, dan tahun lalu pendaki Korea Selatan ini terpaksa membatalkan niatnya dalam kabut dan badai salju.

Sementara, Pasaban juga sangat mengetahui liku-liku Annapura dan pernah pernah harus membatalkan pendakiannya tahun 2007 pada ketinggian 1.000 meter dari puncak gunung itu.

Jika Pasaban ingin mengukir namanya dalam buku catatan pemegang rekor, ia harus bisa cepat-cepat turun dari puncak Annapurna lalu menyeberang perbatasan ke Tibet untuk mulai menaklukkan Shisha Pangma, awal bulan depan.

Jurubicara Pasaban mengatakan, pendaki gunung Spanyol itu akan menuju Tibet untuk mencoba mendaki gunung itu dalam beberapa hari mendatang. Pelomba ketiga, Gerlinde Kaltenbrunner dari Austria, akan mulai mendaki gunung Everest, pekan depan.

Namun Pasaban masih harus mendaki K2–yang merupakan puncak tertinggi kedua di dunia yang dianggap sebagai paling sulit dan berbahaya dari 14 puncak gunung dengan ketinggian 8.000 meter ke atas–yang seluruhnya terdapat di Himalaya dan Karakoram di Asia.

Pendaki Italia, Reinhold Messner, merupakan orang pertama yang berhasil mendaki keempat belas puncak gunung itu pada tahun 1986.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

ISLAM PADA MASA KERAJAAN DI INDONESIA


PENDAHULUAN


Pada abad 7 masehi, Islam sudah sampai ke Nusantara. Para Da’i yang datang ke Indonesia berasal dari jazirah Arab yang sudah beradaptasi dengan bangsa India yakni bangsa Gujarat dan ada juga yang telah beradptasi dengan bangsa Cina, dari berbagai arah yakni dari jalur sutera (jalur perdagangan) da’wah mulai merambah di pesisir-pesisir Nusantara.

Sejak awal Islam tidak pernah membeda-bedakan fungsi seseorang untuk berperan sebagai da’i (juru da’wah). Kewajiban berda’wah dalam Islam bukan hanya kasta (golongan) tertentu saja tetapi bagi setiap masyarakat dalam Islam. Sedangkan diagama lain hanya golongan tertentu yang mempunyai otoritas menyebarkan agama yaitu pendeta. Sesuai ungkapan Imam Syahid Hasan Albana “ Nahnu duat qabla kulla sai “ artinya kami adalah da’I sebelum profesi-profesi lainnya.

Sampainya da’wah di Indonesia melalui para pelaut-pelaut atau pedagang-pedagang sambil membawa dagangannya juga membawa akhlak Islami sekaligus memperkenalkan nilai-nilai yang Islami. Masyarakat ketika berbenalan dengan Islam terbuka pikirannya, dimulyakan sebagai manusia dan ini yang membedakan masuknya agama lain sesudah maupun sebelum datangnya Islam. Sebagai contoh masuknya agama Kristen ke Indonesia ini berbarengan dengan Gold (emas atau kekayaan) dan glory (kejayaan atau kekuasaan) selain Gospel yang merupakan motif penyebaran agama berbarengan dengan penjajahan dan kekuasaan. Sedangkan Islam dengan cara yang damai. Begitulah Islam pertama-tama disebarkan di Nusantara, dari komunitas-komunitas muslim yang berada di daerah-daerah pesisir berkembang menjadi kota-kota pelabuhan dan perdagangan dan terus berkembang sampai akhirnya menjadi kerajaan-kerajaan Islam dari mulai Aceh sampai Ternata dan Tidore yang merupakan pusat kerajaan Indonesia bagian Timur yang wilayahnya sampai ke Irian jaya.


ISLAM PADA MASA KERAJAAN DI INDONESIA


2.1 Telisik awal mula islam datang ke Indonesia

Ada beberapa teori yang hingga kini masih sering dibahas, baik oleh sarjana-sarjana Barat maupun kalangan intelektual Islam sendiri. Setidaknya ada tiga teori yang menjelaskan kedatangan Islam ke Timur Jauh termasuk ke Nusantara. Teori pertama diusung oleh Snouck Hurgronje yang mengatakan Islam masuk ke Indonesia dari wilayah-wilayah di anak benua India. Tempat-tempat seperti Gujarat, Bengali dan Malabar disebut sebagai asal masuknya Islam di Nusantara.

Bahkan sumber-sumber literatur Cina menyebutkan, menjelang seperempat abad ke-7, sudah berdiri perkampungan Arab Muslim di pesisir pantai Sumatera. Di perkampungan-perkampungan ini diberitakan, orang-orang Arab bermukim dan menikah dengan penduduk lokal dan membentuk komunitas-komunitas Muslim.

Dalam kitab sejarah Cina yang berjudul Chiu T’hang Shu disebutkan pernah mendapat kunjungan diplomatik dari orang-o-rang Ta Shih, sebutan untuk orang Arab, pada tahun tahun 651 Masehi atau 31 Hijirah. Empat tahun kemudian, dinasti yang sama kedatangan duta yang dikirim oleh Tan mi mo ni’. Tan mi mo ni’ adalah sebutan untuk Amirul Mukminin.

Dalam catatan tersebut, duta Tan mi mo ni’ menyebutkan bahwa mereka telah mendirikan Daulah Islamiyah dan sudah tiga kali berganti kepemimpinan. Artinya, duta Muslim tersebut datang pada masa kepemimpinan Utsman bin Affan.

Kian tahun, kian bertambah duta-duta dari Timur Tengah yang datang ke wilayah Nusantara. Pada masa Dinasti Umayyah, ada sebanyak 17 duta Muslim yang datang ke Cina. Pada Dinasti Abbasiyah dikirim 18 duta ke negeri Cina. Bahkan pada pertengahan abad ke-7 sudah berdiri beberapa perkampungan Muslim di Kanfu atau Kanton.
Tentu saja, tak hanya ke negeri Cina perjalanan dilakukan. Beberapa catatan menyebutkan duta-duta Muslim juga mengunjungi Zabaj atau Sribuza atau yang lebih kita kenal dengan Kerajaan Sriwijaya. Hal ini sangat bisa diterima karena zaman itu adalah masa-masa keemasan Kerajaan Sriwijaya. Tidak ada satu ekspedisi yang akan menuju ke Cina tanpa melawat terlebih dulu ke Sriwijaya.

Sebuah literatur kuno Arab yang berjudul Aja’ib al Hind yang ditulis oleh Buzurg bin Shahriyar al Ramhurmuzi pada tahun 1000 memberikan gambaran bahwa ada perkampungan-perkampungan Muslim yang terbangun di wilayah Kerajaan Sriwijaya. Hubungan Sriwijaya dengan kekhalifahan Islam di Timur Tengah terus berlanjut hingga di masa khalifah Umar bin Abdul Azis. Ibn Abd Al Rabbih dalam karyanya Al Iqd al Farid yang dikutip oleh Azyumardi Azra dalam bukunya Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII menyebutkan ada proses korespondensi yang berlangsung antara raja Sriwijaya kala itu Sri Indravarman dengan khalifah yang terkenal adil tersebut.

Pada awal abad ke-12, Sriwijaya mengalami masalah serius yang berakibat pada kemunduran kerajaan. Kemunduran Sriwijaya ini pula yang berpengaruh pada perkembangan Islam di Nusantara. Kemerosotan ekonomi ini pula yang membuat Sriwijaya menaikkan upeti kepada kapal-kapal asing yang memasuki wilayahnya. Dan hal ini mengubah arus perdagangan yang telah berperan dalam penyebaran Islam.

Selain Sabaj atau Sribuza atau juga Sriwijaya disebut-sebut telah dijamah oleh dakwah Islam, daerah-daerah lain di Pulau Sumatera seperti Aceh dan Minangkabau menjadi lahan dakwah. Bahkan di Minangkabau ada tambo yang mengisahkan tentang alam Minangkabau yang tercipta dari Nur Muhammad. Ini adalah salah satu jejak Islam yang berakar sejak mula masuk ke Nusantara.

Di saat-saat itulah, Islam telah memainkan peran penting di ujung Pulau Sumatera. Kerajaan Samudera Pasai menjadi kerajaan Islam pertama yang dikenal dalam sejarah. Namun ada pendapat lain dari Prof. Ali Hasjmy dalam makalahnya pada Seminar Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Aceh yang digelar pada tahun 1978. Menurut Ali Hasjmy, kerajaan Islam pertama adalah Kerajaan Perlak.

ISLAM PADA MASA KERAJAAN DI IDONESIA


2.2.1 Islam Pada Masa Kerajaan Perlak
Kesultanan Peureulak adalah kerajaan Islam di Indonesia yang berkuasa di sekitar wilayah Peureulak, Aceh Timur, Aceh sekarang antara tahun 840 sampai dengan tahun 1292. Perlak atau Peureulak terkenal sebagai suatu daerah penghasil kayu perlak, jenis kayu yang sangat bagus untuk pembuatan kapal, dan karenanya daerah ini dikenal dengan nama Negeri Perlak. Hasil alam dan posisinya yang strategis membuat Perlak berkembang sebagai pelabuhan niaga yang maju pada abad ke-8, disinggahi oleh kapal-kapal yang antara lain berasal dari Arab dan Persia. Hal ini membuat berkembangnya masyarakat Islam di daerah ini, terutama sebagai akibat perkawinan campur antara saudagar muslim dengan perempuan setempat.

Naskah Hikayat Aceh mengungkapkan bahwa penyebaran Islam di bagian utara Sumatera dilakukan oleh seorang ulama Arab yang bernama Syaikh Abdullah Arif pada tahun 506 H atau 1112 M. Lalu berdirilah kesultanan Peureulak dengan sultannya yang pertama Alauddin Syah yang memerintah tahun 520–544 H atau 1161–1186 M. Sultan yang telah ditemukan makamnya adalah Sulaiman bin Abdullah yang wafat tahun 608 H atau 1211 M.
Chu-fan-chi, yang ditulis Chau Ju-kua tahun 1225, mengutip catatan seorang ahli geografi, Chou Ku-fei, tahun 1178 bahwa ada negeri orang Islam yang jaraknya hanya lima hari pelayaran dari Jawa. Mungkin negeri yang dimaksudkan adalah Peureulak, sebab Chu-fan-chi menyatakan pelayaran dari Jawa ke Brunai memakan waktu 15 hari. Eksistensi negeri Peureulak ini diperkuat oleh musafir Venesia yang termasyhur, Marco Polo, satu abad kemudian. Ketika Marco Polo pulang dari Cina melalui laut pada tahun 1291, dia singgah di negeri Ferlec yang sudah memeluk agama Islam.
Sultan pertama Perlak adalah Sultan Alaiddin Syed Maulana Abdul Aziz Shah, yang beraliran Syiah dan merupakan keturunan Arab dengan perempuan setempat, yang mendirikan Kesultanan Perlak pada 1 Muharram 225 H (840 M). Ia mengubah nama ibukota kerajaan dari Bandar Perlak menjadi Bandar Khalifah. Sultan ini bersama istrinya, Putri Meurah Mahdum Khudawi, kemudian dimakamkan di Paya Meuligo, Peureulak, Aceh Timur.

Pada masa pemerintahan sultan ketiga, Sultan Alaiddin Syed Maulana Abbas Shah, aliran Sunni mulai masuk ke Perlak. Setelah wafatnya sultan pada tahun 363 H (913 M), terjadi perang saudara antara kaum Syiah dan Sunni sehingga selama dua tahun berikutnya tak ada sultan.

Kaum Syiah memenangkan perang dan pada tahun 302 H (915 M), Sultan Alaiddin Syed Maulana Ali Mughat Shah dari aliran Syiah naik tahta. Pada akhir pemerintahannya terjadi lagi pergolakan antara kaum Syiah dan Sunni yang kali ini dimenangkan oleh kaum Sunni sehingga sultan-sultan berikutnya diambil dari golongan Sunni.
Pada tahun 362 H (956 M), setelah meninggalnya sultan ketujuh, Sultan Makhdum Alaiddin Abdul Malik Shah Johan Berdaulat, terjadi lagi pergolakan selama kurang lebih empat tahun antara Syiah dan Sunni yang diakhiri dengan perdamaian dan pembagian kerajaan menjadi dua bagian:

• Perlak Pesisir (Syiah) dipimpin oleh Sultan Alaiddin Syed Maulana Shah (986 – 988)

• Perlak Pedalaman (Sunni) dipimpin oleh Sultan Makhdum Alaiddin Malik Ibrahim Shah Johan Berdaulat (986 – 1023)

Sultan Alaiddin Syed Maulana Shah meninggal sewaktu Kerajaan Sriwijaya menyerang Perlak dan seluruh Perlak kembali bersatu di bawah pimpinan Sultan Makhdum Alaiddin Malik Ibrahim Shah Johan Berdaulat yang melanjutkan perjuangan melawan Sriwijaya hingga tahun 1006.

Sultan ke-17 Perlak, Sultan Makhdum Alaiddin Malik Muhammad Amin Shah II Johan Berdaulat (memerintah 1230 – 1267) menjalankan politik persahabatan dengan menikahkan dua orang putrinya dengan penguasa negeri tetangga Peureulak:

1. Putri Ratna Kamala, dikawinkan dengan Raja Kerajaan Malaka, Sultan Muhammad Shah (Parameswara).

2. Putri Ganggang, dikawinkan dengan Raja Kerajaan Samudera Pasai, Al Malik Al-Saleh.
Sultan terakhir Perlak adalah sultan ke-18, Sultan Makhdum Alaiddin Malik Abdul Aziz Johan Berdaulat (memerintah 1267 – 1292). Setelah ia meninggal, Perlak disatukan dengan Kerajaan Samudera Pasai di bawah pemerintahan sultan Samudera Pasai, Sultan Muhammad Malik Al Zahir, putra Al Malik Al-Saleh.

2.2.2.Islam Pada Masa Kerajaan Samudra Pasai


Kerajaan Samudra Pasai tercatat dalam sejarah sebagai kerajaan Islam yang pertama. Mengenai awal dan tahun berdirinya kerajaan ini tidak diketahui secara pasti. Akan tetapi menurut pendapat Prof. A. Hasymy, berdasarkan naskah tua yang berjudul Izhharul Haq yang ditulis oleh Al-Tashi dikatakan bahwa sebelum Samudra Pasai berkembang, sudah ada pusat pemerintahan Islam di Peureula (Perlak) pada pertengahan abad ke-9. Perlak berkembang sebagai pusat perdagangan, tetapi setelah keamanannya tidak stabil maka banyak pedagang yang mengalihkan kegiatannya ke tempat lain yakni ke Pasai, akhirnya Perlak mengalami kemunduran.

Dengan kemunduran Perlak, maka tampillah seorang penguasa lokal yang bernama Marah Silu dari Samudra yang berhasil mempersatukan daerah Samudra dan Pasai. Dan kedua daerah tersebut dijadikan sebuah kerajaan dengan nama Samudra Pasai. Kerajaan Samudra Pasai terletak di Kabupaten Lhokseumauwe, Aceh Utara, yang berbatasan dengan Selat Malaka. Untuk mengetahui letak Samudra Pasai.

Berdasarkan lokasi kerajaan Samudra Pasai tersebut, maka dapatlah dikatakan posisi Samudra Pasai sangat strategis karena terletak di jalur perdagangan Internasional, yang melewati Selat Malaka.

Dengan posisi yang strategis tersebut, Samudra Pasai berkembang menjadi kerajaan Islam yang cukup kuat, dan di pihak lain Samudra Pasai berkembang sebagai bandar transito yang menghubungkan para pedagang Islam yang datang dari arah barat dan para pedagang Islam yang datang dari arah timur. Keadaan ini mengakibatkan Samudra Pasai mengalami perkembangan yang cukup pesat pada masa itu baik dalam bidang, politik, ekonomi, sosial dan budaya.

Kerajaan Samudra Pasai yang didirikan oleh Marah Silu bergelar Sultan Malik al- Saleh, sebagai raja pertama yang memerintah tahun 1285 – 1297. Pada masa pemerintahannya, datang seorang musafir dari Venetia (Italia) tahun 1292 yang bernama Marcopolo, melalui catatan perjalanan Marcopololah maka dapat diketahui bahwa raja Samudra Pasai bergelar Sultan.

Setelah Sultan Malik al-Saleh wafat, maka pemerintahannya digantikan oleh keturunannya yaitu Sultan Muhammad yang bergelar Sultan Malik al-Tahir I (1297 – 1326). Pengganti dari Sultan Muhammad adalah Sultan Ahmad yang juga bergelar Sultan Malik al-Tahir II (1326 – 1348). Pada masa ini pemerintahan Samudra Pasai berkembang pesat dan terus menjalin hubungan dengan kerajaan-kerajaan Islam di India maupun Arab. Bahkan melalui catatan kunjungan Ibnu Batulah seorang utusan dari Sultan Delhi tahun 1345 dapat diketahui Samudra Pasai merupakan pelabuhan yang penting dan istananya disusun dan diatur secara India dan patihnya bergelar Amir.
Pada masa selanjutnya pemerintahan Samudra Pasai tidak banyak diketahui karena pemerintahan Sultan Zaenal Abidin yang juga bergelar Sultan Malik al-Tahir III kurang begitu jelas.

Menurut sejarah Melayu, kerajaan Samudra Pasai diserang oleh kerajaan Siam. Dengan demikian karena tidak adanya data sejarah yang lengkap, maka runtuhnya Samudra. Dengan letaknya yang strategis, maka Samudra Pasai berkembang sebagai kerajaan Maritim, dan bandar transito. Dengan demikian Samudra Pasai menggantikan peranan Sriwijaya di Selat Malaka.

2.2.3 Islam Pada Masa Kerajaan Demak


Letak Demak sangat menguntungkan, baik untuk perdagangan maupun untuk pertanian. Pada zaman dahulu Distrik Demak terletak di pantai selat yang memisahkan Pegunungan Muria dari Jawa. Sebelumnya selat itu rupanya agak lebar dan dapat dilayari dengan baik, sehingga kapal-kapal dagang dari Semarang dapat mengambil jalan pintas itu untuk berlayar ke Rembang.. Tetapi sudah sejak abad ke-17 jalan pintas itu tidak lagi dapat dilayari setiap saat.

Pada abad ke-16 agaknya Demak telah menjadi tempat penimbunan perdagangan padi, yang berasal dari daerah-daerah pertanian di sebelah-menyebelah selat tersebut, dengan perairannya yang tenang, untuk pelayaran. Konon, Kota Juwana, di sebelah Timur, sekitar tahun 1500 merupakan pusat seperti itu bagi daerah tersebut. Tetapi menurut Tome Pires sekitar tahun 1513 Juwana telah dihancurkan dan dikosongkan oleh Gusti Patih, panglima besar Kerajaan Majapahit yang bukan Islam. Ini tentu merupakah suatu pengerahan tenaga terakhir kerajaan yang sudah tua itu. Setelah jatuhnya Juwana, Demak menjadi penguasa mutlak selat di sebelah selatan Pegunungan Muria.

Menurut cerita tradisi Mataram Jawa Timur, raja Demak yang pertama – Raden Patah – adalah putra raja Majapahit yang terakhir (dari zaman sebelum Islam), yang dalam lagenda-lagenda bernama Brawijaya. Ibu Raden Patah konon seorang putri Cina dari keraton raja Majapahit. Waktu hamil putri itu dihadiahkan kepada seorang anak emasnya yang menjadi gubernur di Palembang. Di situlah Radeh Patah lahir.
Dalam buku-buku cerita dan cerita babad dari Jaws Timur dan Jawa Tengah, raja Demak kedua sebagai pengganti Raden Patah yang legendaris itu disebut Pangeran Sabrang-Lor. Nama itu ternyata berasal dari daerah tempat tinggalnya di “Seberang Utara”. Tidak ada yang luar biasa disebut dalam cerita babad tentangnya
Menurut cerita Jawa Timur dan Mataram dalam buku-buku cerita Serat Kandha dan cerita babad, penguasa Demak yang ketiga bernama Tranggana atau Trenggana. la adalah saudara sultan sebelum dia, Pangeran Sabrang-Lor; kedua-duanya putra penguasa pertama, Raden Patah yang terkenal itu. Menurut cerita yang beredar di kalangan pengagum orang-orang suci,Tranggana telah mengundang Sunan Kalijaga dari Cirebon untuk menetap di Kadilangu dekat Demak. (Pada abad ke-17 Sunan Kalijaga dianggap sebagai rasul Islam dan pelindung Jawa Tengah sebelah selatan).

Dalam buku-buku cerita dan cerita babad dari Jawa Tengah, Tranggana dan ayahnya (Raden Patah) diberi nama sesuai dengan nama tempat yang mungkin terletak dekat Demak, yaitu Jimbun. Dalam cerita-cerita ini terdapat seorang panembahan Jimbun, bahkan seorang Sultan Bintara Jimbun dan Jimbun Sabrang.

Bagian yang tertua dari Masjid Demak yang amat suci itu, yaitu pengimaman, mungkin sudah dibangun pada perempat terakhir abad ke-15. Jelaslah bahwa masjid tersebut telah meraih nama harum di Jawa Tengah sebagai masjid agung dari kerajaan Islam yang pertama di negeri ini. Oleh sebab itu, penting mengumpulkan keterangan yang menyangkut hubungan raja-raja Demak dengan agama Islam dan golongan santri.
Jemaah beserta masjid yang mereka bangun sendiri merupakan permulaan pengislaman Pulau Jawa. Jemaah ini diketahui oleh para imam, yang semula mendapatkan kekuasaan dengan jalan memimpin salat wajib lima waktu. Kekuasaan rohani para imam masjid ini sudah sejak zaman awal penyebaran agama Islam meluas meliputi bidang kehidupan masyarakat: pada asasnya, agama Islam meluas meliputi bidang kehidupan masyarakat: pada asasnya, agama Islam tidak mengakui adanya perbedaan antara hal rohani dan hal duniawi. Suatu hal yang berarti, di Jawa para imam masjid hampir selalu disebut “penghulu”. Kata “penghulu” di tanah Melayu berarti “kepala” pada umumnya, tanpa arti khusus di bidang rohani.

Dalam Hikayat Hasanuddin, sejarah singkat tentang raja-raja Banten, terdapat suatu bagian yang seluruhnya mengisahkan kelima imam Masjid Demak. Pemberitaan mereka dalam kronik Banten ini dapat dihubungkan dengan kenyataan bahwa penyusunnya ternyata menaruh minat terhadap soal-soal kerohanian. Mungkin ia sendiri termasuk kelompok santri. Dapatlah dimengerti jika baik Tome Pires, orang Portugis itu, maupun penulis-penulis Belanda pada waktu-waktu kemudian, sedikit pun tidak membuat catatan mengenai imam-imam masjid. Jadi, berita-berita Jawa tidak dapat dibandingkan dengan berita-berita Barat. Kemungkinan pemberitaan-pemberitaan tentang kelima imam Demak itu dapat dipercaya pada pokoknya berdasarkan sifatnya sebagai kronik keluarga. Mungkin yang menjadi dasar pemberitaan-pemberitaan tersebut ialah suatu silsilah tua yang autentik. Maka dari itu, ada baiknya membicarakan berita-berita tentang imam-imam Demak dalam uraian berikut ini sehubungan dengan sejarah dinasti Demak.

Imam pertama di Masjid Demak konon ialah Pangeran Bonang, putra Pangeran Rahmat dari Ngampel Denta (Surabaya). Ia telah dipanggil oleh “Pangeran Ratu” di Demak itu untuk memangku jabatan itu. Selang berapa lama ia telah meletakkan jabatan itu untuk pergi, mula-mula ke Karang Kemuning, kemudian ke Bonang, dan akhirnya ke Tuban; di tempat itu ia meninggal. Buku Sadjarah Dalem, suatu silsilah raja-raja Mataram-Surakarta, menyusun urutan tempat kediaman tersebut secara lain: Surabaya, Karang Kemuning, Tuban, Ngampel Denta, Demak. la juga diberi nama Pangeran Makdum Ibrahim dan Sunan Wadat Anyakra Wati; menurut cerita ia hidup membujang atau setidak-tidaknya tidak meninggalkan anak.

Menurut Hikayat Hasanuddin, keempat imam Masjid Demak yang, berikut ini semuanya masih berkerabat dengan putri Pangeran Rahmat dari Ngampel Denta, yang diberi nama Nyai Gede Pancuran, sesuai dengan nama tempat tinggalnya yang kemudian. Ia konon kawin dengan Pangeran Karang Kemuning, seorang alim ulama dari “Atas Angin” dari Barat, mungkin orang Melayu atau orang yang berasal dari India atau Arab, yang bernama Ibrahlm. Karang Kemuning itu tempat kedudukan Aria Timur, raja Jepara. “Pangeran Atas Angin” ini konon anak Pangeran Bonang. Pada akhir hidupnya ia pergi ke Surabaya, tempat ia wafat dan dimakamkan di samping ayah mertuanya, Pangeran Rahmat dari Ngampel Denta. Janda dan keluarganya pergi ke Tuban, tempat tinggal saudaranya, Pangeran Bonang. la menetap di Pancuran. Sejak itu ia diberi nama sesuai dengan tempat tersebut. Menurut cerita, ia mempunyai mukjizat. Adipati Tuban pun sangat menghormatinya. Pada akhir hidupnya janda itu kembali ke Surabaya, dan dimakamkan dekat ayah dan suaminya.

Menurut Hikayat Hasanuddin, imam kedua Masjid Demak ialah suami cucu Nyai Gede Pancuran. la diberi nama Makdum Sampang. Ayahnya berasal dari Majapahit. Makdum Sampang selama beberapa waktu tinggal di rumah ipar perempuannya, Nyai Pembarep, juga cucu Nyai Gede Pancuran, dan janda Kalipah Husain, yang juga seorang alim ulama dari “Sabrang”. Konon, mereka bertempat tinggal di Undung (dekat Kudus sekarang). Dari situ Makdum Sampang pindah berturut-turut ke Surabaya, ke Tuban, dan ke Demak. Di tempat-tempat itu ia selalu memangku jabatan imam. Kepergiannya dari Tuban itu disebabkan ia merasa sangat keberatan untuk bekerja di bawah kekuasaan seorang adipati yang masih bersikap sebagai abdi maharaja Majapahit yang “kafir” itu. Itulah sebabnya ia memenuhi panggilan “Pangeran Ratu” Demak, untuk menjadi imam di masjid setempat. Setelah wafat dalam usia lanjut, konon ia dimakamkan di sebelah barat masjid yang termasyhur itu.

Makdum Sampang sebagai imam diganti oleh anaknya, yang dalam Hikayat Hasanuddin disebut Kiai Gedeng Pambayun ing Langgar. Tidak lama kemudian ia bersama ibunya pindah ke Jepara, untuk menjadi imam di sana. Mereka berdua, dan sesudah mereka juga beberapa sanak saudara lainnya, dimakamkan di sana, di gunung keramat Danareja.
Imam keempat Masjid Demak, menurut Hikayat Hasanuddin, konon seorang saudara sepupu dari pihak ibu imam pendahulunya. Jelasnya: ia anak Nyai Pambarep, yaitu ipar perempuan Makdum Sampang. la mendapat gelar Penghulu Rahmatullah dari Undung. la dipanggil oleh adipati Sabrang Lor untuk memangku jabatan itu dan ia gugur “dalam pertempuran”. la dimakamkan dekat Masjid Demak, di samping pamannya Makdum Sampang.
Orang kelima pada daftar imam Masjid Demak yang disebut dalam Hikayat Hasanuddin ialah orang yang mendapat julukan Pangeran Kudus, sesuai dengan tempat tinggalnya kemudian. la juga terkenal dengan panggilan Pandita Rabani. Konon, ia putra Pengulu Rahmatullah. Menurut hikayat ini, kiranya ia telah dipanggil oleh Syekh Nurullah (yang kemudian akan menjadi Sunan Gunungjati dari Cirebon) untuk memangku jabatan imam. Buku Sadjarah Dalem silsilah keturunan antara Sunan Ngampel dan Sunan Kudus. Seharusnya ada lima keturunan, seperti yang disebutkan oleh Hikayat ini. Sunan Kudus dianggap sebagai salah seorang moyang raja-raja Mataram (menurut garis ibu).
Daftar lima imam Masjid Demak yang menurut Hikayat Hasanuddin telah memangku jabatan selama pemerintahan tiga (atau empat) raja pertama kerajaan itu (bandingkan Bab II-6, akhir) adalah sebagai berikut.

1. Pangeran Bonang : sesudah tahun 1490 sampai tahun 1506/12 (?), dipanggil oleh “ratu” Demak.

2. Makdum Sampang: tahun 1506/12 sampai kira-kira tahun 1515 (?), dipanggil oleh “ratu” Demak.

3. Kiai Pambayun : ca. tahun 1515 sampai sebelum tahun 1521(?), pindah ke Japara.

4. Pengulu Rahmatullah : tahun 1524 (?) – ditetapkan oleh Syekh Nurullah, yang kemudian menjadi Sunan Gunungjati.

Berdasarkan keterangan yang dikutip dari Hikayat Hasanuddin ini, dapat diambil kesimpulan bahwa kedudukan imam-imam yang pertama itu amat tergantung pada raja-raja Demak, pelindung mereka. Kemudian (mungkin waktu kekuasaan duniawi mereka atas jemaah di sekitar Masjid makin bertambah besar) mereka bersikap agak lebih bebas dan mempunyai hubungan dengan pemimpin-pemimpin rohani kota-kota lain. Yang disebut paling akhir pada daftar kelima imam itu, menurut cerita tradisi Jawa, memegang peranan penting dalam merebut kota raja Majapahit yang masih “kafir” itu.

2.2.4 Islam Pada Masa Kerajaan Ternate

Kerajaan Gapi atau yang kemudian lebih dikenal sebagai Kesultanan Ternate (mengikuti nama ibukotanya) adalah salah satu dari 4 kerajaan Islam di Maluku dan merupakan salah satu kerajaan Islam tertua di nusantara. Didirikan oleh Baab Mashur Malamo pada 1257. Kesultanan Ternate memiliki peran penting di kawasan timur nusantara antara abad ke-13 hingga abad ke-17. Kesultanan Ternate menikmati kegemilangan di paruh abad ke -16 berkat perdagangan rempah-rempah dan kekuatan militernya. Di masa jaya kekuasaannya membentang mencakup wilayah Maluku, Sulawesi utara, timur dan tengah, bagian selatan kepulauan Filipina hingga sejauh kepulauan Marshall di pasifik.

Pulau Gapi (kini Ternate) mulai ramai di awal abad ke-13, penduduk Ternate awal merupakan warga eksodus dari Halmahera. Awalnya di Ternate terdapat 4 kampung yang masing – masing dikepalai oleh seorang momole (kepala marga), merekalah yang pertama – tama mengadakan hubungan dengan para pedagang yang datang dari segala penjuru mencari rempah – rempah. Penduduk Ternate semakin heterogen dengan bermukimnya pedagang Arab, Jawa, Melayu dan Tionghoa. Oleh karena aktifitas perdagangan yang semakin ramai ditambah ancaman yang sering datang dari para perompak maka atas prakarsa momole Guna pemimpin Tobona diadakan musyawarah untuk membentuk suatu organisasi yang lebih kuat dan mengangkat seorang pemimpin tunggal sebagai raja.
Tahun 1257 momole Ciko pemimpin Sampalu terpilih dan diangkat sebagai Kolano (raja) pertama dengan gelar Baab Mashur Malamo (1257-1272). Kerajaan Gapi berpusat di kampung Ternate, yang dalam perkembangan selanjutnya semakin besar dan ramai sehingga oleh penduduk disebut juga sebagai “Gam Lamo” atau kampung besar (belakangan orang menyebut Gam Lamo dengan Gamalama). Semakin besar dan populernya Kota Ternate, sehingga kemudian orang lebih suka mengatakan kerajaan Ternate daripada kerajaan Gapi. Di bawah pimpinan beberapa generasi penguasa berikutnya, Ternate berkembang dari sebuah kerajaan yang hanya berwilayahkan sebuah pulau kecil menjadi kerajaan yang berpengaruh dan terbesar di bagian timur Indonesia khususnya Maluku.

Di masa – masa awal suku Ternate dipimpin oleh para momole. Setelah membentuk kerajaan jabatan pimpinan dipegang seorang raja yang disebut Kolano. Mulai pertengahan abad ke-15, Islam diadopsi secara total oleh kerajaan dan penerapan syariat Islam diberlakukan. Sultan Zainal Abidin meninggalkan gelar Kolano dan menggantinya dengan gelar Sultan. Para ulama menjadi figur penting dalam kerajaan.
Setelah Sultan sebagai pemimpin tertinggi, ada jabatan Jogugu (perdana menteri) dan Fala Raha sebagai para penasihat. Fala Raha atau Empat Rumah adalah empat klan bangsawan yang menjadi tulang punggung kesultanan sebagai representasi para momole di masa lalu, masing – masing dikepalai seorang Kimalaha. Mereka antara lain ; Marasaoli, Tomagola, Tomaito dan Tamadi. Pejabat – pejabat tinggi kesultanan umumnya berasal dari klan – klan ini. Bila seorang sultan tak memiliki pewaris maka penerusnya dipilih dari salah satu klan. Selanjutnya ada jabatan – jabatan lain Bobato Nyagimoi se Tufkange (Dewan 18), Sabua Raha, Kapita Lau, Salahakan, Sangaji dll. Untuk lebih jelasnya lihat Struktur organisasi kesultanan Ternate.
Tak ada sumber yang jelas mengenai kapan awal kedatangan Islam di Maluku khususnya Ternate. Namun diperkirakan sejak awal berdirinya kerajaan Ternate masyarakat Ternate telah mengenal Islam mengingat banyaknya pedagang Arab yang telah bermukim di Ternate kala itu. Beberapa raja awal Ternate sudah menggunakan nama bernuansa Islam namun kepastian mereka maupun keluarga kerajaan memeluk Islam masih diperdebatkan. Hanya dapat dipastikan bahwa keluarga kerajaan Ternate resmi memeluk Islam pertengahan abad ke-15.

Kolano Marhum (1465-1486), penguasa Ternate ke-18 adalah raja pertama yang diketahui memeluk Islam bersama seluruh kerabat dan pejabat istana. Pengganti Kolano Marhum adalah puteranya, Zainal Abidin (1486-1500). Beberapa langkah yang diambil Sultan Zainal Abidin adalah meninggalkan gelar Kolano dan menggantinya dengan Sultan, Islam diakui sebagai agama resmi kerajaan, syariat Islam diberlakukan, membentuk lembaga kerajaan sesuai hukum Islam dengan melibatkan para ulama. Langkah-langkahnya ini kemudian diikuti kerajaan lain di Maluku secara total, hampir tanpa perubahan. Ia juga mendirikan madrasah yang pertama di Ternate. Sultan Zainal Abidin pernah memperdalam ajaran Islam dengan berguru pada Sunan Giri di pulau Jawa, disana beliau dikenal sebagai “Sultan Bualawa” (Sultan Cengkih).

3.2.5 Kerajaan Mataram


Raja merdeka pertama di Mataram mangkat pada tahun 1601. Tahun kejadian itu sudah pasti, karena pada tahun itu terjadi gerhana matahari yang dicatat pada kronik-kronik Jawa di samping peristiwa kematian itu. la meninggal di Kajenar (di daerah Sragen). Oleh sebab itu, dalam sejarah Jawa ia disebut juga Seda-ing-Kajenar. Ia dimakamkan di bawah kaki ayahnya, Ki Pamanahan, di tempat permakaman tua dekat kota istana Kotagede, yang telah mereka bangun dan perluas.

Tidak ada berita-berita dari orang-orang luar – bangsa Portugis atau Belanda – yang kiranya dapat memberi gambaran tentang peletak dasar kekuasaan dinasti Mataram ini. Tanpa menyebutkan nama, suatu berita Belanda hanya mengabarkan adanya seorang raja di Mataram (lihat bagian sebelum ini). Karena itu, hanya hasil kerjanyalah yang dapat memberi kesaksian tentangnya. Ternyata, usahanya telah berhasil: kira-kira dalam waktu 15 tahun kekuasaan Mataram telah diakui oleh sebagian besar Jawa Tengah; perlawanan keluarga-keluarga raja yang lebih tua di Jawa Timur telah dapat ditahannya.

Kekerasan kemauan dan ketangkasan yang sudah menjadi bawaannya telah merangsang kegairahan bertindak dan semangat tempur bawahannya. Penduduk daerah Mataram, yang baru pada perempat ketiga abad ke-16 dikuasai oleh Ki Pamanahan, sebagian besar terdiri dari para pendatang baru dari daerah-daerah lain di Jawa yang karena berbagai hal telah mengadu untung di luar kampung halaman mereka. Dapat diperkirakan bahwa generasi pertama dan kedua para pengadu untung di Mataram itu – berkat raja yang berkemauan keras dan haus kekuasaan – telah rela ikut berperang, dengan harapan dapat pulang membawa harta rampasan dari daerah-daerah di Jawa Timur dan di Pesisir yang dikuras habis. Laki-laki dan perempuan, yang dipaksa ikut pindah dan bekerja keras di Mataram, memungkinkan “wong Mataram” yang merdeka dengan sepenuh tenaga mengabdi pada keraton dan masuk tentara. Hal itu berlangsung di zaman pemerintahan Sultan Agung sampai pada pertengahan abad ke-17, yang menjadi dasar perkembangan kekuatan Mataram.

Sekalipun Panembahan Senapati banyak mencapai sukses di bidang politik-militer, ia tidak berhasil mendapatkan pengakuan dari raja-raja Jawa lain sebagai raja yang sederajat dan sejajar dengan mereka. Karena dari perkawinan pertamanya, ia hanya mempunyai hubungan kekerabatan dengan keluarga raja Pati. Dengan raja Pragola akhirnya ia malah bermusuhan. Perkawinan yang dipaksakan dengan putri Madiun, yang dalam cerita tutur Mataram diberitakan dengan penuh kebanggaan, malah menjatuhkan namanya di kalangan raja-raja Jawa Timur. Kecuali itu Panembahan Senapati juga mempunyai hubungan keluarga dengan keturunan Ki Giring dan Ki Kajoran, yang mempunyai hak lebih tua di Jawa Tengah bagian selatan daripada keturunan Panembahan Senapati sendiri. Tetapi mereka itu hanya memiliki sedikit kekuasaan duniawi. Anak sulung Panembahan, Raden Rangga, konon beribukan seorang putri dari istana Kalinyamat. Oleh Ratu Kalinyamat putri itu sebenarnya telah disediakan bagi iparnya, Sultan Pajang.

Menurut cerita babad dari Mataram, tidak lama sebelum meninggalnya Panembahan Senapati dengan tegas telah menunjuk anak satu-satunya yang masih hidup – anak garwa padmi putri dari Pati – Raden Mas Jolang sebagai penggantinya meskipun masih muda. Raja yang masih muda itu memang dilantik sesudah ayahnya meninggal, terutama karena pengaruh Adipati Mandaraka yang sudah tua dan yang sudah sudah lama mengabdi sebagai patih. Juga karena pengaruh Pangeran Mangkubumi, adik Panembahan Senapati. Raja kedua di Mataram itu dalam sejarah Jawa terkenal dengan nama anumertanya, Seda-ing Krapyak, karena ia meninggal pada usia cukup muda karena kecelakaan di Krapyak tahun 1613. Krapyak adalah sebuah cagar alam binatang, taman berburu.

KESIMPULAN

Secara garis besar penulis mencona menyimpulkan awal dari masuknya islam ke indonesia dan awal berkembannya kerajaan-kerajaan islam di indonesia. Karena spesifikasi kerajaan-kerajaan islam di indonesia dapat di baca lebih detail di bab sebelumnya.

Diawali pada tahun 30 Hijri atau 651 Masehi, hanya berselang sekitar 20 tahun dari wafatnya Rasulullah SAW, Khalifah Utsman ibn Affan RA mengirim delegasi ke Cina untuk memperkenalkan Daulah Islam yang belum lama berdiri. Dalam perjalanan yang memakan waktu empat tahun ini, para utusan Utsman ternyata sempat singgah di Kepulauan Nusantara. Beberapa tahun kemudian, tepatnya tahun 674 M, Dinasti Umayyah telah mendirikan pangkalan dagang di pantai barat Sumatera. Inilah perkenalan pertama penduduk Indonesia dengan Islam. Sejak itu para pelaut dan pedagang Muslim terus berdatangan, abad demi abad. Mereka membeli hasil bumi dari negeri nan hijau ini sambil berdakwah.

Lambat laun penduduk pribumi mulai memeluk Islam meskipun belum secara besar-besaran. Aceh, daerah paling barat dari Kepulauan Nusantara, adalah yang pertama sekali menerima agama Islam. Bahkan di Acehlah kerajaan Islam pertama di Indonesia berdiri, yakni Pasai. Berita dari Marcopolo menyebutkan bahwa pada saat persinggahannya di Pasai tahun 692 H / 1292 M, telah banyak orang Arab yang menyebarkan Islam. Begitu pula berita dari Ibnu Battuthah, pengembara Muslim dari Maghribi., yang ketika singgah di Aceh tahun 746 H / 1345 M menuliskan bahwa di Aceh telah tersebar mazhab Syafi’i. Adapun peninggalan tertua dari kaum Muslimin yang ditemukan di Indonesia terdapat di Gresik, Jawa Timur. Berupa komplek makam Islam, yang salah satu diantaranya adalah makam seorang Muslimah bernama Fathimah binti Maimun. Pada makamnya tertulis angka tahun 475 H / 1082 M, yaitu pada jaman Kerajaan Singasari. Diperkirakan makam-makam ini bukan dari penduduk asli, melainkan makam para pedagang Arab.

Sampai dengan abad ke-8 H / 14 M, belum ada pengislaman penduduk pribumi Nusantara secara besar-besaran. Baru pada abad ke-9 H / 14 M, penduduk pribumi memeluk Islam secara massal. Para pakar sejarah berpendapat bahwa masuk Islamnya penduduk Nusantara secara besar-besaran pada abad tersebut disebabkan saat itu kaum Muslimin sudah memiliki kekuatan politik yang berarti. Yaitu ditandai dengan berdirinya beberapa kerajaan bercorak Islam seperti Kerajaan Samudra Pasai, , Demak, Ternate, Mataram, dll. Para penguasa kerajaan-kerajaan ini berdarah campuran, keturunan raja-raja pribumi pra Islam dan para pendatang Arab. Dengan kekuasaan mereka pun, meeka memberikan sumbangsih yang cukup penting dalampengantar peradaban islam di Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA

•Amal Adnan M, “Maluku Utara, Perjalanan Sejarah 1250 – 1800 Jilid I dan II”, Universitas Khairun Ternate 2002.
•Azra Azyumardi. Renaisans Islam Asia Tenggara.- Sejarah Wacana dan Kekuasaan.Jakarta: Rosda., 1999..
•Braginsky, V. I. (. Yang Indah, Yang Beifaedah dan Kamal: Sejarah Sastra Melayu Dalain Abad 7-19. Jakarta: INIS. 1992.
•Faruqi R. Ismail. Atlas Kebudayaan Islam. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan
•Pustaka. 1992.
•Gellner, Ernest. Posmodernism, Reason and Religion. London and New York:,1992.
•Hamid Ismail. Kesusastraan Melayu Lama dari Warisan Peradaban Islam. Petaling Jaya, Selangor: Fajar Bakti Sdn. Bhd, 1983.
•Hanna A. Willard, Alwi Des, “Ternate dan Tidore, Masa Lalu Penuh Gejolak”, Pustaka Sinar Harapan Jakarta 1996.
•Hasan Hamid Abdul, “Ternate dari abad ke abad”, Ternate 1987..
•Iskandar Teuku, Hikayat Aceh, Martinus Nijhoff, ‘s-Gravenhage, 1958.
•Masinambow, “Bahasa Ternate dalam konteks bahasa – bahasa Austronesia dan Non Austronesia”, dalam TERNATE BANDAR JALUR SUTERA, LinTas 2001
•Montana Suwedi, “Nouvelles donees sur les royaumes de Aceh”, Archipel, 53, 1997,
•Tjandrasasmita Uka. Sejarah Nasional Indonesia III: daman Pertumbuhan danPerkembangan Kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia. Jakarta: DepartemenPendidikandan Kebudayaan., 1975.
•Winstedt, R. O. (). A History of Classical Malay Literature. Kuala Lumpu: Oxford
•University Press. 1961.
•Yule Henry Sir, The Book of Marco Polo, II, London, 1903,.
•—————–. Preliminary Statement on a General Theory of the Islamization of Malaysia Indonesian Archipelago. Kuala Lumpur: Universiti Malaya Press. 1996.
•—————SKI Fakultas Adab UIN Yogyakarta, Sejarah Peradaban Islam di Indonesia, Yogyakarta: Penerbit PUSTAKA, 2006
—————–. Preliminary Statement on a General Theory of the Islamization ofMalaysia Indonesian Archipelago. Kuala Lumpur: Universiti Malaya Press. hal. 223.
Ibid.
Azyumardi Azra. Renaisans Islam Asia Tenggara.- Sejarah Wacana dan Kekuasaan.Jakarta: Rosda., 1999. hal. 18.
Braginsky, V. I. . Yang Indah, Yang Beifaedah dan Kamal: Sejarah Sastra Melayu Dalain Abad 7-19. Jakarta: INIS. hal. 86.
SKI Fakultas Adab UIN Yogyakarta, Sejarah Peradaban Islam di Indonesia, Yogyakarta: Penerbit PUSTAKA, 2006, hal. 26
Teuku Iskandar, Hikayat Aceh, Martinus Nijhoff, ‘s-Gravenhage, 1958. Suwedi Montana, “Nouvelles donees sur les royaumes de Aceh”, Archipel, 53, 1997, hal. 85-9
Ibid.
Sir Henry Yule, The Book of Marco Polo, II, London, 1903, hal. 284.
SKI Fakultas Adab UIN Yogyakarta, Sejarah Peradaban Islam di Indonesia, hal. 27.
Ismail Hamid. Kesusastraan Melayu Lama dari Warisan Peradaban Islam. Petaling Jaya, Selangor: Fajar Bakti Sdn. Bhd, 1983. hal. 56.
Ibid. hal 35.
Pada abad ke-17 selama musim hujan orang dapat berlayar dengan sampan lewat tanah yang tergenang air, mulai dari Jepara sampai Pati di tepi Sungai Juwana (Graaf, Sunan Mangku Rat, jil. ke-1, hlm. 218). Pada lahun 1657 Tumenggung Pati mengumumkan, bahwa ia bermaksud menggali saluran air baru dari Demak ke Juwana, hingga Juwana akan dapat menjadi pusat perdagangan (Grad, Sunan Mangku Rat, jil. ke-1, hal. 112). Boleh jadi ia menginginkan memulihkan jalan air lama, yang satu abad yang lalu masih dapat dipakai.
Tome Pires, Suma Oriental, I, hal. 189..
Panembahan Jimbun diberitakan dalam sebuah buku cerita (serat kandha) yang isinya panjang lebar (Pigeaud, Literature, jil. II, hal. 3626 dan 363a). Yang penting untuk dikemukakan ialah bahwa dengan menyebut nama Senapati Jimbun sebagai penyusun, telah diterbitkan buku hukum yang diberi nama Salokantara (Pigeaud, Literature, jil. 1, hal. 310a). Buku ini tergolong kesusastraan abad ke-16 yang bersifat hukum. Mudah sekali dapat diduga bahwa buku ini telah disusun atas perintah raja yang paling kuasa dari dinasti Demak, mungkin raja pertama yang dapat mengetengahkan dirinya sebagai raja Islam yang berdaulat.
Uka Tjandrasasmita. Sejarah Nasional Indonesia III: daman Pertumbuhan danPerkembangan Kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia. Jakarta: DepartemenPendidikandan Kebudayaan., 1975. hal. 97.
Pangeran (atau Sunan) Bonang ialah satu di antara Sembilan Orang-orang Suci (Wali Songo), rasul-rasul dalam agama Islam, yang telah dihormati oleh orang-orang beriman dari zaman lama di Jawa Tengah. Banyak legenda diceritakan tentangnya (Pigeaud, Literature, jil. III, Indeks). Buku Sunan Bonang, secara tidak tepat oleh Dr. Schrieke (Schrieke, Bonang); dianggap sebagai karangan Sunan Bonang telah diterbitkan lagi oleh Dr. Drewes (Drewes, Admonitions).
Memang kita tertarik untuk berkesimpulan bahwa pindahnya Imam Demak yang ketiga ke Jepara itu terjadi pada saat ketika raja Jepara (mungkin Pate Unus menurut orang-orang Portugis, Adipati Sabrang Lor menurut ceritera tutur Jawa) mempunyai kekuasaan juga di Demak. Karena raja itu meninggal pada tahun 1521, tentunya perpindahan itu terjadi sebelum tahun tersebut.
Peperangan (melawan Majapahit) itu terjadi kira-kira pada tahun 1524 (chat Bab II-10). Imam yang keempat ialah imam pertama, yang diberi sebutan “pengulu”, dengan istilah pinjaman dari bahasa Melayu yang sekarang lazim dipakai di Jawa. Dapat diperkirakan, bahwa penggantian sebutan imam menjadi pengulu ini dapat dihubungkan dengan pergantian fungsi. Dengan gelar pengulu itu mungkin raja hendak menambahkan bobot yang lebih nyata lagi pada kekuasaan sekuler yang dimiliki kepala jemaah masjid. Rupanya Pengulu Rahmatullah memang benar-benar ikut bertempur di medan laga. Rahmatullah agaknya merupakan nama anumerta: “Yang telah kembali ke Rahmat Allah”.
Pangeran Kudus ini dalam sejarah Jawa Tengah pada pertengahan pertama abad ke-16 telah memainkan peranan yang cukup penting (lihat Bab 5). la juga termasuk Wali Songo, seperti sanak keluarganya yang lebih tua, yaitu Sunan Ngampel Denta dan Sunan Bonang, yang dihormati oleh orang-orang beriman zaman lama di Jawa Tengah. Sudah jelas bahwa Musyawarat orang-orang suci menurut cerita legenda ini, yang dihadiri oleh mereka semua, sukar kiranya dapat sungguh-sungguh terjadi. Dugaan ini wajar, karena antara kedua tokoh historis Sunan Ngampel Denta dan Sunan Kudus terdapat jarak waktu beberapa generasi (dari pertengahan abad ke-15 sampai dekade-dekade pertama abad ke-16).
M. Adnan Amal, “Maluku Utara, Perjalanan Sejarah 1250 – 1800 Jilid I dan II”, Universitas Khairun Ternate 2002. hal 131.
Willard A. Hanna & Des Alwi, “Ternate dan Tidore, Masa Lalu Penuh Gejolak”, Pustaka Sinar Harapan Jakarta 1996. hal. 45
Ibid.
Abdul Hamid Hasan, “Ternate dari abad ke abad”, Ternate 1987. hal 76.
Prof E.K.W Masinambow, “Bahasa Ternate dalam konteks bahasa – bahasa Austronesia dan Non Austronesia”, dalam TERNATE BANDAR JALUR SUTERA, LinTas 2001
Meninggalnya Panembahan Senapati pada tahun 1601 sudah dibicarakan dalam Graaf, Senapati (hal. 128 dst.). Menurut Meinsma (Babad, hlm. 209), waktu ia meninggal, ia telah menjadi raja 3 tahun lamanya. Di sini mungkin perlu dibaca 13 tahun. Tahun 1588 merupakan tahun yang penting dalam sejarah perkembangan kekuasaan Mataram di Jawa Tengah. Pada tahun 1598 tidak banyak hal penting dilaporkan
Dalam Padmasoesastra, Sadjarah Dalem (hal. 132 dst.), terdapat sebuah daftar yang memuat nama para istri dan anak (termasuk yang meninggal waktu masih muda) Panembahan Senapati. Daftar-daftar para keluarga raja-raja Mataram ini mungkin berdasarkan catatan yang berasal dari tempat tinggal para istri raja di Keraton. Karena keterperinciannya, daftar-daftar ini memberikan kesan dapat dipercaya, juga dalam hal asal usul ibu-ibu para putra raja. Setidak-tidaknya, Sadjarah Dalem itu dalam hal kerumahtanggaan keraton zaman Mataram memberikan gambaran yang agak luas, khususnya mengenai harem. Karangan tersebut mengenai zaman-zaman yang lain, kurang dapat dipercaya.
Prof E.K.W Masinambow, “Bahasa Ternate dalam konteks bahasa – bahasa Austronesia dan Non Austronesia”, dalam TERNATE BANDAR JALUR SUTERA, LinTas 2001

April 19, 2009 oleh Khaerul Umam, S.IP

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Menggebu-gebu Euy........

Diriwayatkan dari usamah bin zaid R.a yang berkata, rosulullah SAW telah mengutus kami dalam suatu pertempuran. Kami sampai di hirqah ( suatu tempat didaerah juhainah ) pada waktu pagi aku berjumpa dengan seorang lelaki, ia mengucapkan lailahaillallah, kemudian aku menikamnya .aku menceritakan peristiwa itu pada rosulullah. Rosulullah bertanya ,” mengapa kamu membunuhnya, padahal ia telah mengucapkan kalimat syahadat , lailahaillallah ? Aku menjawab ,” wahai rosulullah, sesungguhnya lelaki itu mengucapkan kalumat syahadat karena takut ayunan pedang ku, rosulullah bertanya lagi, sudah kau belah dadanya hingga kamu tahu ia benar-benar mengucapkan kalimat syahadat atau tidak ? rosulullah terus menerus mengulangi perkataannya itu kepadaku sampai kepadaku sampai-sampai aku berharap alangkah baiknya juka saat itu aku belum masuk islam “ ( HR.Al-Bukhari dan Muslim )
Yang mendorong usamah melakukan perbuatan itu adalah keberanian dan semangat yang menyala-nyala dalam dadanya, dia tidak mau percaya begitu saja pada kalimat syahadat yang diucapkan seseorang. Apalagi dalam situasi perang. Kemungkinan berpura-pura sangat besar. Namun dia lupa bahwa yang tahu isi hati seseorang hanyalah Allah SWT.
Allah berfirman dalam (surat Al-Imran : 29 )yang berbunyi :
“ Jika kamu menyembunyikan apa yang ada didalam hatimu atau kamu melahirkannya, pasti Allah mengetahui .Allah mengetahui apa-apa yang ada dilangit dan apa-apa yang ada dibumi. Dan Allah maha kuasa atas segala sesuatu”

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Sekulerisasi Pendidikan

Perjalanan panjang sejarah Bangsa Indonesia jika kita telusuri lebih jauh, memang sungguh sangat mengenaskan, kolonialisasi yang dilakukan oleh bangsa Barat terhadap Bumi Nusantara ini ( selanjutnya di sebut dengan Indonesia ) tak mengenal batas dan rasa belas kasihan. Kekayaan alam yang dimiliki bangsa ini menjadi daya tarik bagi Negara Negara Barat, khususnya Inggris, Portugis, Spanyol dan Belanda, kedatangan mereka tidak hanya untuk mengeksploitasi kekayaan alam bangsa ini, mereka juga ingin melakukan transformasi “Missi dan Zending “ yang kita kenal dengan istilah God, Gold, Gospel.

Kedatangan Belanda ke Indonesia dengan Missinya telah memporak – porandakan peradaban bangsa Indonesia dari bangsa yang memiliki peradaban tinggi dan umumnya sudah beragama Islam, semua system social pun mengalami perubahan yang cukup signifikan, khususnya system ekonomi yang mengarah kepada kapitalisme, jika boleh meng – claim bahwa inilah cikal – bakal system ekonomi kapitalisme atau sekarang Neo liberalism masuk ke Indonesia, sehingga budaya gotong royong bangsa ini semakin terkikis yang terjadi adalah sikap individualistic.

Kolonialisasi telah menghancurkan tatanan peradaban bangsa ini, salah satu elan vital yang di hancurkan adalah Pendidikan, karena pendidikan merupakan medium yang paling efektif untuk melakukan transformasi ide karena pendidikan tidak bisa dilepaskan dari politik dan ideologi akan tetapi yang menjadi masalah adalah Belanda memanfaatkan medium pendidikan untuk melakukan hegemoni kekuasaan, dalam prakteknya akses pendidikan hanya diperuntukkan kepada keturunan Belanda sendiri atau pribumi yang memiliki darah atau garis keturunan bangsawan, inilah awal dari komersialisasi pendidikan di Indonesia.

Jika kita melihat dari isi pendidikan yang di terapkan oleh Belanda adalah menanamkan Nilai – nilai sekularisme dalam satu sisi dalam pendidikan di Indonesia, yang ingin memisahkan agama dan dunia, juga pendidikan di jadikan sebagai alat untuk menyebarkan agama kristiani. Dalam kesempatan ini, yang lebih menarik untuk di bahas adalah masuknya nilai – nilai sekularisme dalam pendidikan di Indonesia, yang mana tentunya memiliki pengaruh yang cukup signifikan terhadap model dan corak pendidikan di Indonesia.

“ Sekolah “ merupakan model pendidikan yang diterapkan oleh Belanda, padahal di Indonesia telah ada model pendidikan, seperti surau, langgar, padepokan, dan sampai kepada Pesantren, kehadiran model pendidikan Sekolah secara tidak langsung telah menjadi anti tesa dari model pendidikan di Indonesia, sehingga kesan yang muncul adalah pendidikan seperti pesantren dianggap pendidikan Tradisional sedangkan sekolah dianggap modern.

Kehadiran model pendidikan Sekolah juga menimbulkan kesenjangan social, karena seperti yang telah disebutkan diatas bahwa pendidikan yang diterapkan oleh belanda hanya di akses oleh kalangan tertentu saja, seperti keturunan Belanda dan anak dari bangsawan, sedangkan masyarakat kecil tidak dapat mengakses pendidikan, hal ini jika kita telusuri lebih jauh, merupakan sebuah rekayasa social yang bertujuan untuk mempertahankan status quo, karena dengan memberikan kesempatan pendidikan kepada anak bangsa ini, maka akan lahir pemberontak – pemberontak yang akan menganggu stabilitas Belanda dalam penjajahan.

Meski penjajah Belanda menuai sukses besar dalam menghapus syariah Islam di bumi Nusantara, umat Islam di negeri ini tidak pernah diam. Perjuangan untuk menegakkan kembali syariah Islam terus dilakukan. Pada tanggal 16 Oktober 1905 berdirilah Sarekat Islam, yang sebelumnya adalah Sarekat Dagang Islam. Inilah mestinya tonggak kebangkitan Indonesia, bukan Budi Utomo yang berdiri 1908 dengan digerakkan oleh para didikan Belanda. KH Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah tahun 1912 dengan melakukan gerakan sosial dan pendidikan. Adapun Taman Siswa, baru didirikan Ki Hajar Dewantara pada 1922. Sejatinya, KH Ahmad Dahlanlah sebagai bapak pendidikan ( H. Endang Saefuddin Anshari, 1983 )

SEKULARISASI PENDIDIKAN
Dalam diskursus sosiologi, terdapat adagium terkenal yang menyatakan, bahwa makin maju (baca: modern)suatu masyarakat atau komunal, maka komitmen mereka kepada agama akan semakin menurun. Oleh karena itu dipercaya bahwa modernisasi bakal menghalau agama dari ruang dan institusi publik, menurunkan arti dan vitalitasnya bagi kehidupan masyarakat, serta menggantinya dengan “tuhan-tuhan” baru. Sehingga dalam proses menuju kemodernan atau modernisasi tersebut, sekularisasi konon menjadi sebuah keniscayaan.

APAKAH SEKULERISME ITU?
Sekulerisme tiada lain adalah sebuah gerakan yang mempropagandakan tentang tidak adanya campur tangan dan keterkaitan hubungan antara kehidupan duniawi dengan agama.
Sekulerisme juga merupakan gerakan sosial yang bertujuan mengalihkan se-penuhnya perhatian manusia dari hal-hal yang bersifat ukhrawi kepada hal-hal yang bersifat duniawi.

Ini berarti bahwa dalam aspek politik, pemerintahan dan kehidupan bernegara, semuanya harus dijauhkan dan dipisahkan dari agama, alias harus dilakukan sekularisasi kehidupan.

Atau dengan ungkapan lain, dalam sekularisme agama harus dijauhkan dari kesadaran sosial, adat astiadat, tradisi, etika, sastra, aliran pemikiran dan undang-undang. Kecuali jika unsur-unsur agama tersebut masuk karena pengaruh sejarah atau tradisi. Atau hanya menjadi unsur-unsur sekundera, seperti hanya menjadi faktor kejiwaan atau institusi yang tidak berpengaruh dalam beberapa persoalan duniawi tertentu.

SEKULARISASI DI INDONESIA
Adapun di Indonesia, sekularisasi sebenarnya telah berjalan sejak zaman Belanda. Pemerintah kolonial melarang keras ekspresi keagamaan, khususnya Islam, yang bagi banyak rakyat nusantara bukan semata-mata agama, melainkan ideologi gerakan, bahkan napas kehidupan.

Sesuai petunjuk Snouck Hurgronje, Belanda mendukung pengembangan Islam di bidang ritual keagamaan, tetapi mencegahnya untuk berperan dalam bidang politik. Inilah yang dinamakan “politik Islam masjid”. Selain itu, untuk mengimbangi peran pesantren dan melanggengkan kekuasan kolonial, dibuatlah sekolah-sekolah sekuler untuk pribumi dengan tujuan mencetak warga yang bukan hanya siap mengisi birokrasi, tapi juga kooperatif dan loyal. Hasil sekularisasi ini tercermin cukup jelas dalam perdebatan menjelang kemerdekaan seputar dasar falsafah negara yang akan dibentuk.
Dari pandangan Snouck Hurgronje penjajah Belanda kemudian berupaya melemahkan dan menghancurkan Islam dengan 3 cara.

1. Memberangus politik dan institusi politik/pemerintahan Islam. Dihapuslah kesultanan Islam. Contohnya adalah Banten Sejak Belanda menguasai Batavia, Kesultanan Islam Banten langsung diserang dan dihancurkan. Seluruh penerapan Islam dicabut, lalu diganti dengan peraturan kolonial.

2. Melalui kerjasama raja/sultan dengan penjajah Belanda. Hal ini tampak di Kerajaan Islam Demak. Pelaksanaan syariah Islam bergantung pada sikap sultannya. Di Kerajaan Mataram, misalnya, penerapan Islam mulai menurun sejak Kerajaan Mataram dipimpin Amangkurat I yang bekerjasama dengan Belanda.

3. Dengan menyebar para orientalis yang dipelihara oleh pemerintah penjajah. Pemerintah Belanda membuat Kantor voor Inlandsche zaken yang lebih terkenal dengan kantor agama (penasihat pemerintah dalam masalah pribumi). Kantor ini bertugas membuat ordonansi (UU) yang mengebiri dan menghancurkan Islam. Salah satu pimpinannya adalah Snouck Hurgronye. Dikeluarkanlah: Ordonansi Peradilan Agama tahun 1882, yang dimaksudkan agar politik tidak mencampuri urusan agama (sekularisasi); Ordonansi Pendidikan, yang menempatkan Islam sebagai saingan yang harus dihadapi; Ordonansi Guru tahun 1905 yang mewajibkan setiap guru agama Islam memiliki izin; Ordonansi Sekolah Liar tahun 1880 dan 1923, yang merupakan percobaan untuk membunuh sekolah-sekolah Islam. Sekolah Islam didudukkan sebagai sekolah liar (H. Aqib Suminto, 1986).

SEKULARISASI PENDIDIKAN
Sekularisasi pun pada akhirnya menjangkau dan memasuki ranah pendidikan. Sekularisasi pendididikan bertujuan untuk menjadikan pendidikan dan pengajaran sebagai sarana menyebarkan pemikiran sekuler, dengan cara-cara antara lain:

1. Menghembus-hembuskan pemikiran sekuler dalam mata pelajaran yang diberikan kepada anak-anak didik dalam berbagai tingkatannya.

2. Berusaha keras mengulur-ulur mata pelajaran agama pada saat-saat yang tidak menguntungkan bagi anak-anak didik.

3. Tabu mengajarkan beberapa nash atau dalil tertentu, karena dipandang meng-ungkapkan kebatilan mereka secara nyata.

4. Merubah nash-nash syar’i melalui komentar dan penafsiran yang dimanipulasi dan dikebiri sehingga nampak seakan-akan mendukung pikiran sekuler atau setidak-setidaknya tidak bertentangan.

5. Mencegah pengaruh para guru yang konsisten dan taat pada ajaran agama agar tidak menjadi anutan para siswa, dengan cara mempercepat proses pensiun sang guru atau menggesernya ke bagian administrasi dan ketatausahaan.

6. Menjadikan pelajaran agama sebagai mata pelajaran penunjang saja yang senantiasa ditempatkan pada bagian akhir waktu di saat para siswa sudah letih jasmani dan rohaninya serta sudah diliputi perasaan ingin cepat pulang.

Asal muasal Sekulerisasi pendidikan di Indonesia adalah dimulai pada zaman kerajaan mataram yang dipimpin oleh Mas Rangsang, yang bergelar Sultan Agung Hanyakrakusuma. Di bawah pemerintahannya (tahun 1613-1645) Mataram mengalami masa kejayaan. Ibukota kerajaan Kotagede dipindahkan ke Kraton Plered. Sultan Agung merupakan raja yang menyadari pentingnya kesatuan di seluruh tanah Jawa. Daerah pesisir seperti Surabaya dan Madura ditaklukkan supaya kelak tidak membahayakan kedudukan Mataram. Ia pun merupakan penguasa lokal pertama yang secara besar-besaran dan teratur mengadakan peperangan dengan Belanda yang hadir lewat kongsi dagang VOC (Vereenigde Oost Indische Compagnie). Kekuasaan Mataram pada waktu itu meliputi hampir seluruh Jawa, dari Pasuruan sampai Cirebon. Sementara itu VOC telah menguasai beberapa wilayah seperti di Batavia dan di Indonesia Bagian Timur.

Di samping dalam bidang politik dan militer, Sultan Agung juga mencurahkan perhatiannya pada bidang ekonomi dan kebudayaan. Upayanya antara lain memindahkan penduduk Jawa Tengah ke Kerawang, Jawa Barat, di mana terdapat sawah dan ladang yang luas serta subur. Sultan Agung juga berusaha menyesuaikan unsur-unsur kebudayaan Indonesia asli dengan Hindu dan Islam. Misalnya Garebeg disesuaikan dengan hari raya Idul Fitri dan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Sejak itu dikenal Garebeg Puasa dan Garebeg Mulud. Pembuatan tahun Saka dan kitab filsafat Sastra Gendhing merupakan karya Sultan Agung yang lainnya.

Sultan Agung meninggal pada tahun 1645 dengan meninggalkan Mataram dalam keadaan yang kokoh, aman, dan makmur. Ia diganti oleh putranya yang bergelar Amangkurat I. Amangkurat I tidak mewarisi sifat-sifat ayahnya. Pemerintahannya yang berlangsung tahun 1645-1676 diwarnai dengan banyak pembunuhan/kekejaman. Pada masa pemerintahannya ibukota kerajaan Mataram dipindahkan ke Kerta.

Pada tahun 1674 pecahlah Perang Trunajaya yang didukung para ulama
Dan bangsawan, bahkan termasuk putra mahkota sendiri. Ibukota Kerta jatuh dan Amangkurat I (bersama putra mahkota yang akhirnya berbalik memihak ayahnya) melarikan diri untuk mencari bantuan VOC. Akan tetapi sampai di Tegalarum, (dekat Tegal, Jawa Tengah) Amangkurat I jatuh sakit dan akhirnya wafat.

Ia digantikan oleh putra mahkota yang bergelar Amangkurat II atau dikenal juga dengan sebutan Sunan Amral. Sunan Amangkurat II bertahta pada tahun 1677- 1703. Ia sangat tunduk kepada VOC demi mempertahankan tahtanya. Pada akhirnya Trunajaya berhasil dibunuh oleh Amangkurat II dengan bantuan VOC, dan sebagai konpensasinya VOC menghendaki perjanjian yang berisi: Mataram harus menggadaikan pelabuhan Semarang dan Mataram harus mengganti kerugian akibat perang.

Oleh karena Kraton Kerta telah rusak, ia memindahkan kratonnya ke Kartasura (1681). Kraton dilindungi oleh benteng tentara VOC. Dalam masa ini Amangkurat II berhasil menyelesaikan persoalan Pangeran Puger (adik Amangkurat II yang kelak dinobatkan menjadi Paku Buwana I oleh para pengikutnya). Namun karena tuntutan VOC kepadanya untuk membayar ganti rugi biaya dalam perang Trunajaya, Mataram lantas mengalami kesulitan keuangan. Dalam kesulitan itu ia berusaha ingkar kepada VOC dengan cara mendukung Surapati yang menjadi musuh dan buron VOC.

3.Pendidikan Islam di Zaman Penjajahan
Kedatangan bangsa barat memang telah membawa kemajuan teknologi. Tetapi tujuannya adalah untuk meningkatkan hasil penjajahannya, bukan untuk kemakmuran bangsa yang dijajah. Begitu pula dibidang pendidikan, mereka memperkenalkan system dan metode baru tetapi sekedar untuk menghasilkan tenaga yang dapat membantu kepentingan mereka dengan upah yang murah dibandingkan dengan jika mereka harus mendatangkan tenaga dari barat. Apa yang mereka sebut pembaruan pendidikan itu adalah Westernisasi dan Kristenisasi yakni untuk kepentingan Barat dan Nasrani, dua motif inilah yang mewarnai kebijaksanaan penjajah Barat di Indonesia selama ± 3,5 abad.

Pada tahun 1882 M pemerintah Belanda membentuk suatu Badan Khusus yang bertugas mengawasi kehidupan beragama dan Pendidikan Islam yang disebut Pries Terraden. Atas nasihat dari Badan inilah maka pada tahun 1905 pemerintah mengeluarkan peraturan yang isinya bahwa orang yang memberikan pengajaran (pengajian) harus minta izin terlebih dahulu. Pada tahun-tahun itu memang sudah terasa adanya ketakutan dari pemerintah Belanda terhadap kemungkinan kebangkitan pribumi.

Pada tahun 1925 pemerintah mengeluarkan peraturan yang lebih ketat lagi terhadap pendidikan agama Islam yaitu bahwa tidak semua orang (Kyai) boleh memberikan pelajaran mengaji. Peraturan itu mungkin disebabkan oleh adanya gerakan organisasi pendidikan Islam yang sudah tampak tumbuh.

Jika kita melihat peraturan-peraturan pemerintah Belanda yang demikian ketat mengenai pengawasan, tekanan dan pemberantasan aktivitas Madrasah dan pondok pesantren di Indonesia, maka seolah-olah dalam tempo yang tidak lama, pendidikan Islam akan menjadi lumpuh. Akan tetapi yang dapat disaksikan dalam sejarah adalah keadaan yang sebaliknya. Masyarakat Islam di Indonesia pada zaman itu laksana air hujan atau air bah yang sulit dibendung.

Jiwa Islam tetap terpelihara dengan baik. Para ulama bersikap non cooperative dengan Belanda. Mereka menyingkir dari tempat yang dekat dengan Belanda. Mereka mengharamkan kebudayaan yang dibawa oleh Belanda dengan berpegang kepada hadits Nabi Muhammad SAW, yang artinya “Barangsiapa yang menyerupai suatu golongan maka ia termasuk golongan tersebut.” (Riwayat Abu Dawud dan Imam Hiban). Mereka tetap berpegang pada ayat Al-Qur’an surat Al-Maidah ayat 51 yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah orang Yahudi dan Nasrani engkau angkat sebagai pemimpinmu.”

4. Pendidikan dimasa Pemerintahan kolonial Belanda
Adapun pendidikan yang dibuat oleh colonial pemerintah belanda adalah sebagai berikut :

ELS


ELS (singkatan dari bahasa Belanda: Europeesche Lagere School) adalah Sekolah Dasar pada zaman kolonial Belanda di Indonesia. ELS menggunakan Bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar.

Awalnya hanya terbuka bagi warga Belanda di Hindia Belanda, sejak tahun 1903 kesempatan belajar juga diberikan kepada orang-orang pribumi yang mampu dan warga Tionghoa. Setelah beberapa tahun, pemerintah Belanda beranggapan bahwa hal ini ternyata berdampak negatif pada tingkat pendidikan di sekolah-sekolah HIS dan HIS kembali dikhususkan bagi warga Belanda saja.

Sekolah khusus bagi warga pribumi kemudian dibuka pada tahun 1907 (yang pada tahun 1914 berganti nama menjadi (Hollandsch-Inlandsche School (HIS)), sementara sekolah bagi warga Tionghoa, Hollandsch-Chineesche School (HCS) dibuka pada tahun 1908..


Hogere Burger School


Hogere Burger School (HBS) adalah sekolah lanjutan tingkat menengah pada zaman Hindia Belanda untuk orang Belanda, Eropa atau elite pribumi dengan bahasa pengantar bahasa Belanda.HBS setara dengan MULO + AMS atau SMP + SMA, namun hanya 5 tahun.

Peraturan Pendidikan 1848, 1892, dan Politik Etis 1901

Peraturan pendidikan dasar untuk masyarakat pada waktu Hindia Belanda pertama kali dikeluarkan pada tahun 1848, dan disempurnakan pada tahun 1892 di mana pendidikan dasar harus ada pada setiap Karesidenan, Kabupaten, Kawedanaan, atau pusat-pusat kerajinan, perdagangan, atau tempat yang dianggap perlu . Peraturan yang terakhir (1898) diterapkan pada tahun 1901 setelah adanya Politik Etis atau Politik Balas Budi dari Kerajaian Belanda, yang diucapkan pada pidato penobatan Ratu Belanda Wilhelmina pada 17 September 1901, yang intinya ada 3 hal penting: irigrasi, transmigrasi, pendidikan.

Pada zaman Hindia Belanda anak masuk HIS pada usia 6 th dan tidak ada Kelompok Bermain (Speel Groep) atau Taman Kanak-Kanak (Voorbels), sehingga langsung masuk dan selama 7 tahun belajar. Setelah itu dapat melanjutkan ke MULO, HBS, atau Kweekschool.

Bagi masyarakat keturunan Tionghoa biasanya memilih jalur HCS (Hollands Chinesche School) karena selain bahasa pengantar Belanda, juga diberikan bahasa Tionghoa.

Di luar jalur resmi Pemerintah Hindia Belanda, maka masih ada pihak swasta seperti Taman Siswa, Perguruan Rakyat, Kristen dan Katholik. Pada jalur pendidikan Islam ada pendidikan yang diselenggrakan oleh Muhamadiyah, Pondok Pesantren, dlsb.

Jalur Pendidikan HBS

Pendidikan HBS selama 5 tahun setelah HIS atau ELS adalah lebih pendek dari pada melalui jalur MULO (3 tahun) + AMS (3 tahun). Di sini dibutuhkan murid yang pandai, terutama bahasa Belanda. Sukarno merupakan salah satu murid HBS di Surabaya sebelum beliau masuk THS di Bandung. Pada waktu itu HBS hanya ada di kota Surabaya, Semarang, Bandung, Jakarta, dan Medan, sedangkan AMS ada di kota Jakarta, Bandung, Medan, Yogyakarta, dan Surabaya...


AMS

AMS adalah singkatan dari bahasa Belanda Algeme(e)ne Middelbare School yang merupakan bagian dari sistem pendidikan zaman kolonial Belanda di Indonesia. AMS setara dengan SMA (Sekolah Menengah Atas) pada saat ini yakni pada jenjang sekolah lanjutan tingkat atas. AMS menggunakan pengantar bahasa Belanda dan pada tahun 1930-an, sekolah-sekolah AMS sudah ada hampir di setiap kota provinsi Hindia Belanda.

Jalur Pendidikan AMS

Banyak orang tua murid menyekolahkan anaknya ke AMS, karena dengan harapan dapat melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi yaitu misalnya ke THS di Bandung (Technische Hooge School - didirikan tahun 1920 - sekarang - Institut Teknologi Bandung - ITB), RHS di Jakarta (Rechts Hooge School - didirikan tahun 1924 - sekarang Fakultas Hukum UI Jakarta), atau GHS di Jakarta (Geneeskudige Hooge School - didirikan tahun 1924 - sekarang Fakultas Kedokteran UI Jakarta), ke Bogor di Landbouw Hooge School - didirikan tahun 1940 - sekarang Institut Pertanian Bogor - IPB. Melalui AMS berarti harus menyelesaikan MULO lebih dahulu yang tersebar di semua kabupaten, sedangkan kalau melalui HBS hanya ada di Surabaya, Semarang, Bandung, Jakarta, atau Medan.

Jalur A afdeling atau SMA Bagian-A pada tahun 1951 atau sekarang Sasatra-Budaya, di mana akan ditekankan pada ilmu sastra dan budaya, tentu saja jalur ini hanya untuk meneruskan ke RHS saja.

Jalur B afdeling atau SMA Bagian-B pada tahun 1951 atau sekarang Paspal, di mana akan ditekankan pada ilmu alam dan ilmu pasti, jalur ini dapat ke semua jurusan RHS, THS, GHS, ataupun LHS.

Guru AMS

Pada waktu itu, para guru AMS berpendidikan tinggi dari RHS, THS, GHS, ataupun LHS. Sehingga misalnya guru aljabar pada umumnya menyandang gelar Ir., guru sejarah menyandang gelar Mr., atau guru botani menyandang gelar dokter (Arts)., dlsb..


Hollandsch-Inlandsche School

Hollandsch-Inlandsche School (HIS) adalah sekolah pada jaman penjajahan Belanda. Pertama kali didirikan di Indonesia pada tahun 1914 seiring dengan diberlakukannya Politik Etis. Sekolah ini ada pada jenjang Pendidikan Rendah (Lager Onderwijs) atau setingkat dengan pendidikan dasar sekarang. HIS termasuk Sekolah Rendah dengan bahasa pengantar bahasa Belanda (Westersch Lager Onderwijs), dibedakan dengan Inlandsche School yang menggunakan bahasa daerah.

Sekolah ini diperuntukan bagi golongan penduduk keturunan Indonesia asli, sehingga disebut juga Sekolah Bumiputera Belanda. Pada umumnya disediakan untuk anak-anak dari golongan bangsawan, tokoh-tokoh terkemuka, atau pegawai negeri. Lama sekolahnya adalah tujuh tahun.


Meer Uitgebreid Lager Onderwijs


MULO (singkatan dari bahasa Belanda Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) adalah bagian dari sistem pendidikan zaman kolonial Belanda di Indonesia. Pada masa sekarang ini, MULO setara dengan SMP (Sekolah Menengah Pertama). Meer Uitgebreid Lager Onderwijs berarti "Pendidikan Dasar Lebih Luas". MULO menggunakan Bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar. Pada akhir tahun 30-an, sekolah-sekolah MULO sudah ada hampir di setiap kota kawedanaan (kota kabupaten)..


HIK

Pada tahun 1848 dikeluarkan peraturan pendidikan dasar untuk Bumiputra, di mana akan didirikan Sekolah Dasar di seluruh pelosok Hindia Belanda. Untuk memenuhi keperluan guru, maka didirikan Hallandse Ilandsche Kweekschool atau Sekolah Guru Bantu (SGB).

Jenis jenjang pendidikan guru


Kweekschool adalah salah satu sistem pendidikan di zaman Hindia Belanda, terdiri atas HIK (Holandse Indische Kweekschool, atau sekolah guru bantu yang ada di semua Kabupaten) dan HKS (Hoogere Kweek School, atau sekolah guru atas yang ada di Jakarta, Medan, Bandung, dan Semarang, salah satu lulusan HKS Bandung adalah Ibu Sud. Europese Kweek School (EKS) yang hanya diperuntukan bagi orang Belanda atau pribumi ataupun orang Arab/Tionghoa yang mahir sekali berbahasa Belanda, dan hanya ada di Surabaya. Pada waktu itu misalnya satu kelas ada 28 orang, maka terdiri 20 orang Belanda, 6 orang Arab/Tionghoa, dan 2 orang pribumi. Selain itu juga dikenal HCK atau Hollandsche Chineesche Kweekschool khusus untuk yang keturunan Tionghoa, salah satu lulusan HCK adalah P.K. Oyong. Di Muntilan ada Katholieke Kweek School atau sebangsa semenari khusus untuk guru beragama Katholiek, lulusannya antara lain Cornel Simanjuntak, R.A.J. Sudjasmin, yang ini pandai bermain musik. Setelah K.H.A. Dahlan mengujungi Muntilan, maka beliau juga terinspirasi mendirikan bagi orang Islam, yaitu Muallimin di Yogyakarta..


Tweede Inlandsche School


Tweede Inlandsche School atau Sekolah Kelas Dua atau Sekolah Ongko Loro merupakan Sekolah Rakyat atau Sekolah Dasar dengan masa pendidikan selama Tiga Tahun dan tersebar di seluruh pelosok desa. Maksud dari pendidikan ini adalah dalam rangka sekedar memberantas buta huruf dan mampu berhitung. Bahasa pengantar adalah bahasa daerah dengan guru tamatan dari HIK. Bahasa Belanda merupakan mata pelajaran pengetahuan dan bukan sebagai mata pelajaran pokok sebagai bahasa pengantar. Namun setelah tamat sekolah ini murid masih dapat meneruskan pada Schakel School selama 5 tahun yang tamatannya nantinya akan sederajat dengan Hollandse Indische School.

Banyak pemimpin Indonesia dimulai dengan pendidikan ini, misalnya Adam Malik, HAMKA, Suharto, dan lainnya..


Schakel School

Schakel School adalah Sekolah Rakyat untuk persamaan dengan murid yang berasal dari Tweede Inlandsche School dan masa pendidikan adalah selama 5 tahun, sehingga lulusannya dipersamakam dengan lulusan HIS. Selain itu juga ada yang dinamakan Vervolg School atau Sekolah Sambungan terutama untuk melanjutkan dari Volk School atau Sekolah Rakyat..


HCS

HCS atau Hollandsch-Chineesche School adalah sekolah-sekolah yang didirikan oleh pemerintah kolonial Belanda di Indonesia khususnya untuk anak-anak keturunan Tionghoa di Hindia Belanda saat itu. Sekolah-sekolah ini pertama kali didirikan di Jakarta pada 1908, terutama untuk menandingi sekolah-sekolah berbahasa Mandarin yang didirikan oleh Tiong Hoa Hwee Koan sejak 1901 dan yang menarik banyak peminat.

Sebagai perbandingan, pada tahun 1915, sekolah-sekolah berbahasa Mandarin mempunyai 16.499 siswa, sementara sekolah-sekolah berbahasa Belanda hanya mempunyai 8.060 orang siswa.

HCS menggunakan bahasa Belanda sebagai bahasa pengantarnya..


Hollandsch Javaansche School

Hollandsche Javansche School atau Sekolah Jawa sebangsa dengan Tweede Inlandsche School yang ada di Pulau Jawa dan dengan pengantar Bahasa Jawa.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Ibu sekuat seribu laki-laki

Dsbuah mesjid trdengar seorg guru sdng mngaji mngajarkn anak muridnya,suatu ktk dtnglh seorg anak,kr2 brumur 9 thn,n lantas ia pun lngsng nimrung dlm pngajian ini,lantas sblm sang guru mnempatknnya dsuatu klompk,sang guru ingin mngetahui kmampuannya,dengan snyumannya yg lembut ia pun brtanya pd sang anak " adkh srt yg km hafal dlm Al-Qur'an ?" "ya"jwb anak itu singkat,"kalau bgt,cb bacakn slh 1 srt yg ad di juz-ama,lalu sianak pun mmbacanya dngn baik,mlihat kmampuan sianak,si guru pun brtanya lg apa km hafal srt Al-Mulk,si anak pun mnjawab,"ya,Alhamdulillah saya sdh hapal " ,lantas sianak pun mmbaca srt Al-Mulk dngn lancar ,mlihat kmampuan sianak si guru pun smakin pnasaran,lantas si guru pun mngakhiri prtanyaannya dngn 1 klmt apkh km hafal Al-Qur'an,si anak pun mnjwb,"ya,Alhamdulillah saya sdh hapal Al-Qur'an ",mndengar jwbn sianak,siguru pun trcengang

Akhirnya stelah plng ngaji si guru pun brkata pd sang anak,"nak nanti bsk tlng panggil ortumu ksini yah,bpk ingin brtemu dngn ortumu"

keesokn hr,si anak ini pun mmbawa ayahnya,tp siguru tmbh trcengang mlihat ayah si anak ,krn tdk mmberi ksn alim ,trhormat n pandai.

Blm sempat ia brtanya,ayah sianak sdh mnyapa kheranannya trlbh dahulu,"Aku tau,mungkin anda tdk prcaya bhw aku adlh ayah dr si anak ini,tp rasa heran anda akn saya jwb,bhw dbelkng anak ini ada seorg ibu yg kkuatannya sm dngn 1000 laki2,saya ktkn pd anda,aku msh punya 3 anak lg yg smuanya hafal Al-Qur'an,n anak yg plng kcl saya brumur 4 thn sdh hafal juz-ama"

"Bgaimn ibunya bs mlakukn itu ? "tanya si guru tanpa bs mnyembunyikn kkagumnnya.

ibu mrk,ktk mrk sdh mulai bs bicara,ia mulai mmbimbingnya mnghafal Al-Qur'an n selalu mmotivasi mrk mlakukn itu,tdk prnh lelah n bosan ia katakn kpd mrk,"siapa yg hafal lbh dahulu,dia yg mnentukn kmn kami akn brlibur mingu dpn n sterusnya,mk trciptalh rasa brsaing diantara mrk,shingga mrk smangat dlm mnghafal Al-Qur'an,itu mknya mngapa saya mngatakn bhw ibu anak ini adlh ibu yg kkuatnnya sama sprt 1000 laki2 ( Copyryte By Majalah Tarbawi )

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS